Goal Ball, Olahraga Unik Para Penyandang Tunanetra

Dunia disabilitas memiliki warna-warni yang seringkali dianggap sebagai hal baru bagi orang awam. Tak terkecuali olahraga goal ball. Nama olahraga ini mungkin bagi masyarakat Indonesia cukup asing. Padahal olahraga ini telah lama ada, yaitu sejak tahun 1946. Ketika itu Hanz Lorenzen dan German Sepp Reindle dari Austria menggunakan olahraga ini untuk membantu rehabilitasi para korban perang dunia ke-2 yang mengalami ketunanetraan.
Sejak saat itu goal ball terus mengalami perkembangan hingga pada tahun 1976 cabang olahraga ini pun resmi masuk dalam cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Olimpiade Paralympic.
Di Indonesia jenis olahraga ini tergolong masih baru. Di negeri ini Goal ball pertama kali dipertandingkan pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV 2016 Jawa Barat. Dan di tahun 2018 cabang olahraga ini pun tidak ketinggalan menjadi salah satu dari delapan belas cabang olahraga yang dipertandingkan di ajang Asian Para Games.
Olahraga ini terbilang unik karena hanya wasitlah yang memiliki hak untuk berbicara di arena pertandingan. Selain wasit, tidak seorang pun yang diperkenankan bersuara, baik di lapangan maupun di sekitarnya. Pasalnya, para atlet goal ball yang semuanya adalah tunanetra mutlak membutuhkan keheningan untuk dapat berkonsentrasi mendeteksi arah bola dengan pendengaran mereka.
Bahkan, suara-suara asing akan membuat wasit meneriakkan kata “Noise!” sehingga pertandingan dihentikan. Mengapa bisa begitu? Jawabannya adalah karena suara-suara tersebut akan mengganggu konsentrasi pemain, sekaligus menutupi suara bola. Agar pemain dapat lebih jelas mendengar suara bola, bola yang digunakan diisi dengan lonceng agar dapat berbunyi sesuai gerakan bola. Bolanya sendiri terbuat dari karet seukuran bola basket. Bola tersebut juga didesain memiliki ruang udara agar bola tidak memantul terlalu tinggi.
Bagi pemain sendiri, berbicara atau mengeluarkan suara merupakan pelanggaran yang dapat membuat mereka dikeluarkan dari lapangan. jika ada pemain yang berteriak sebanyak dua kali, maka hal tersebut digolongkan sebagai pelanggaran sehingga pemain dikeluarkan dari area pertandingan.
Sebelum pertandingan dimulai kembali wasit akan menenangkan keadaan dengan berteriak “Quiet, please”. Pertandingan pun akan dimulai kembali dengan aba-aba “Play!” ketika suasana sudah hening.
Cabang olahraga ini dimainkan oleh dua tim atau perorangan yang saling berhadapan. Cara bermainnya adalah dengan menggelindingkan bola ke arah gawang lawan.
Lawan akan berjaga di area depan gawang untuk menghindari bola masuk yang akan menambah poin pemberi umpan.
Jika dimainkan secara tim, masing-masing tim dalam goal ball beranggotakan tiga pemain yang bertugas menjaga gawang. Jadi, Mereka bertugas membobol gawang lawan sekaligus menjaga gawang sendiri. Gawangnya sendiri berukuran panjang 9 meter dan tinggi 130 centimeter.
Untuk Lapangannya, dibagi menjadi tiga bagian yaitu ada landing area, netral area dan team area untuk melempar bola. Landing area merupakan daerah yang berada di depan garis
gawang sedangkan netral area berada di tengah lapangan dan team area merupakan daerah gawang.
Masing-masing lawan akan berlomba memasukan bola ke gawang.
Lemparan pemain harus mencapai landing area. Jika tidak mengenai landing area atau jika lemparan melebihi landing area, maka wasit akan memberikan penalti atau dikenal dengan istilah high ball. Pemain juga tidak boleh melempar lebih dari empat kali. Jika wasit sudah meneriakkan “Play!”, namun pemain tidak juga melemparkan bola hingga 10 detik maka hal itu tergolong pelanggaran, sehingga terjadilah penalti. Penalti dilakukan dengan melemparkan bola ke gawang lawan yang dijaga oleh salah seorang pemain, dan gol terjadi apabila bola berhasil masuk ke gawang. Ketika pemain mencetak gol, maka wasit akan bersiul sebanyak dua kali untuk menandakan perolehan poin. Tim dengan perolehan gol terbanyak dalam batas waktu permainan yang berlangsung 2×12 menit pun akan menjadi pemenang.
Perlengkapan yang dipakai atlet selama berlaga di antaranya penutup mata, jersey, sepatu, dan pelindung lutut, tulang kering, dan siku.
Demikianlah sekelumit penelusuran saya tentang olahraga goal ball. Dengan semangat dan kreativitas kondisi tunanetra tidak akan menghalangi kita untuk mengukir prestasi dan mengharumkan nama bangsa. Mari terus berolahraga, karena dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
Referensi :

 Asian Para Games 2018, Mengenal Cabor Goal Ball untuk Tunanetra – Kompas.com, , bola.kompas.com/read/2018/09/12/20320058/asian-para-games-2018-mengenal-cabor-goal-ball-untuk-tunanetra
 Mengenal ‘Goal Ball’, Olahraga Baru Untuk Tunanetra | | Arah.Com, , arah.com/article/13764/mengenal-goal-ball-olahraga-baru-untuk-tunanetra.html
 Mengenal Goalball, Olahraga untuk Atlet Tunanetra di Asian Para Games 2018 – Tribun Solo, solo.tribunnews.com/2018/09/19/mengenal-goalball-olahraga-untuk-atlet-tunanetra-di-asian-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s