Ikan Raja Laut, Fosil Hidup dari Perairan Sulawesi

Kembali lagi di Chrysanova’s Blog, kali ini kita akan menjelajahi kekayaan alam Indonesia kita tercinta, khususnya dunia fauna. Fauna yang hadir kali ini berasal dari kedalaman laut, lebih dari 180 meter hingga kedalaman 700 meter di bawah permukaan laut. Tempat yang dalam dan dipenuhi biota laut unik, termasuk seekor ikan purba. Ikan purba? Ya, ikan yang hidup di perairan sekitar Pulau Manado Tua Sulawesi Utara ini telah menjelajahi lautan di bumi lebih dulu daripada dinosaurus, tepatnya pada era Devon 380 juta tahun yang lalu. Yang jelas, mereka diyakini sudah punah pada 65 juta tahun yang lalu. Namun, pendapat itu ternyata salah. Dari 120 spesies ikan yang di dunia internasional populer dengan nama Coelacanth ini, ternyata masih tersisa dua spesies yang masih eksis hingga saat ini. Kedua spesies tersebut adalah Latimeria chalumnae atau coelacanth Komoro, dan Latimeria manadoensis yang hidup di Laut Sulawesi. Coelacanth sendiri artinya “duri yang berongga”, dari perkataan Yunani coelia, “κοιλιά” (berongga) dan acanthos, “άκανθος” (duri), merujuk pada duri siripnya yang berongga)
Sesuai namanya, Coelacanth Komoro berhabitat di Samudera Hindia bagian barat, sedangkan coelacanth Manado berasal dari Indonesia, yaitu dari Laut Sulawesi. Kedua jenis ikan purba ini ditemukan secara tidak sengaja. Latimeria chalumni ditemukan pada tahun 1938 di Sungai Chalumna yang terletak di Afrika Selatan bagian timur. Saat itu seekor coelacanth terjaring di dalam pukat hiu oleh kapal yang berlayar di muara Sungai Chalumna. Kapten kapal pukat yang tertarik melihat ikan aneh tersebut mengirimkannya ke museum di kota East London yang ketika itu dipimpin oleh Nn. Marjorie Courtney-Latimer. Seorang iktiologis (ahli ikan) setempat, Dr. J.L.B. Smith kemudian mendeskripsikan ikan tersebut dan menerbitkan artikelnya di jurnal Nature pada tahun 1939. Untuk mengenang sang kurator museum dan lokasi penemuan ikan itu ia memberi nama Latimeria chalumnae kepada sang ikan jenis baru.
Pencarian yang dilakukan selama belasan tahun kemudian menemukan bahwa ikan tersebut berasal dari Kepulauan Komoro di Samudera Hindia sebelah barat. Di sana beberapa ratus individu coelacanth diperkirakan hidup pada kedalaman laut lebih dari 150 m. Di luar kepulauan itu, sampai tahun 1990an beberapa individu juga tertangkap di perairan Mozambique, Madagaskar, Tanzania, dan juga Afrika Selatan. Namun semuanya masih dianggap sebagai bagian dari populasi yang kurang lebih sama.
Lalu bagaimana dengan coelacanth Sulawesi alias Latimeria manadoensis? Ikan purba yang bertempat tinggal di Laut Sulawesi ini juga ditemukan secara tidak sengaja. Pada tanggal 18 September 1997, Arnaz dan Mark Erdmann yang sedang berwisata ke Indonesia untuk berbulan madu melihat ikan aneh dijual di pasar Manado Tua, Sulawesi Utara.
Mark mengira ikan itu adalah seekor gombessa (Coelacanth Komoro), meskipun berwarna cokelat, dan bukan biru. Seorang ahli menyadari foto mereka yang diunggah Ke internet dan menyadari betapa pentingnya penemuan ini. Kemudian Erdmann menghubungi nelayan setempat dan meminta mereka untuk segera mengirimkan ikan seperti ini jika ada tangkapan ikan ini kelak.
Kemudian, Spesimen Coelacanth Indonesia kedua berukuran panjang 1,2 meter dan berat 29 kg., berhasil ditangkap hidup-hidup pada 30 Juli 1998. Ikan ini tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara. Ikan ini sudah dikenal sejak lama oleh para nelayan setempat, bahkan telah populer dengan sebutan ikan raja laut. Namun, dunia ilmu pengetahuan belum mengetahuinya sehingga penemuan tersebut menjadi awal dikenalnya ikan raja laut oleh dunia internasional. Ikan ini sempat hidup selama enam jam, memungkinkan ilmuwan untuk mendokumentasikan lewat foto, warnanya, gerakan sirip, dan perilaku umum ikan ini. Spesimen
ini kemudian diawetkan dan disumbangkan ke Museum Zoologicum Bogoriens (MZB), bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Tes DNA menunjukkan bahwa spesimen ini secara genetik berbeda dari populasi coelacanth di kepulauan Komoro, Samudra Hindia Barat.
Ikan raja laut tersebut kemudian dikirimkan kepada seorang peneliti Amerika yang tinggal di Manado, Mark Erdmann, bersama dua koleganya, R.L. Caldwell dan Moh. Kasim Moosa dari LIPI. Penemuan ini kemudian dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature.
Maka kini orang mengetahui bahwa ada populasi coelacanth yang kedua, yang terpisah menyeberangi Samudera Hindia dan pulau-pulau di Indonesia barat sejauh kurang-lebih 10.000 km. Belakangan, berdasarkan analisis DNA-mitokondria dan isolasi populasi, beberapa peneliti Indonesia dan Prancis mengusulkan ikan raja laut sebagai spesies baru Latimeria menadoensis.
Pada bulan Mei 2007, seorang nelayan Indonesia menangkap seekor coelacanth di lepas pantai Provinsi Sulawesi Utara. Ikan ini memiliki ukuran sepanjang 131 centimeter dengan berat 51 kg ketika ditangkap. Di Bunaken juga pernah ditemukan seekor coelacanth hidup berenang dengan bebasnya.
Secara fisik ikan raja laut mirip dengan coelacanth Komoro, hanya saja ikan ini berwarna kecoklatan, sedangkan coelacanth Komoro bersisik biru baja. Coelacanth memiliki ciri khas ikan-ikan purba, ekornya berbentuk seperti sebuah kipas, matanya besar, dan sisiknya terlihat tidak sempurna (seperti batu). Ukurannya kira-kira 2/3 tubuh orang dewasa dan berwarna ungu gelap ,.
Namun sayangnya, ikan purba yang merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia ini sudah langka.
IUCN Red Lisg Bahkan telah memasukkannya dalam daftar dengan dengan kategori rentan. Di Indonesia, ikan raja laut termasuk ikan yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999. Satu spesies lainnya, Latimeria chalumnae (Coelacanth Samudra Hindia Barat) masuk dalam daftar terancam kritis.
Habitat ikan coelacanth Indonesia berada di sekitar perairan Laut Sulawesi, terutama di sekitar Pulau Manado Tua, perairan Malalayang, Teluk Manado, dan di perairan Talise, Minahasa Utara. Habitat ikan coelacanth berada pada kedalamanan lebih dari 180 meter dengan suhu maksimal 18 derajat Celsius.
Pada beberapa kesempatan penelitian langsung di habitat aslinya, Coelacanth ditemukan berdiam di mulut goa batuan lava bawah laut. Keunikan paling nyata ikan ini adalah keberadaan sepasang sirip dada, sirip perut, satu sirip anal (bagian belakang bawah), dan satu sirip punggung yang tidak menyatu dengan tubuh, tetapi menjulur, bercuping, dan berdaging seperti tungkai. Untuk tetap pada posisinya, coelacanth menggerakkan sirip perut dan sirip dadanya seperti dayung. Gerakan maju datang dari sirip anal dan sirip punggung belakang. Rahang atas coelacanth dapat bergerak membuka seperti rahang bawah. Dengan kemampuan itu, coelacanth yang merupakan ikan karnivora dapat memangsa ikan yang lebih besar. Yang lebih unik lagi, coelacanth menetaskan telurnya di dalam perut, bukan di luar tubuhnya.
Bagi yang ingin melihat penampilan ikan yang lumayan menyeramkan ini, di Indonesia spesimen coelacanth Indonesia awetan kering disimpan dalam peti kaca dan dipamerkan di Seaworld Indonesia, Jakarta. Sedangkan di Indonesia, setidaknya ada dua awetan basah coelacanth Indonesia, yakni yang disimpan di Museum Biologi LIPI di Cibinong dan di Manado.
Demikianlah perkenalan singkat kita dengan ikan yang diyakini merupakan leluhur para makhluk darat atau tetrapoda, tidak terkecuali manusia. Mari kita cintai alam kita. Dengan melestarikan alam ciptaan Tuhan, kita akan mendapatkan bahan pembelajaran yang sangat berharga bagi kita dan generasi mendatang. Salam Chrysanova’s Blog, sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya.

Referensi :

 Alamendah’s Blog

 Wikipedia Bahasa Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s