Gerbang Neraka, Sebuah Film Horor-Adventure Berbumbu Science Fiction

Baru-baru ini saya menonton sebuah film berjudul Gerbang Neraka. Sesuai dengan judulnya yang menyeramkan, film ini bergenre horor. Namun bagi saya Gerbang Neraka memiliki karakteristik sendiri sehingga tidak hanya menyuguhkan kengerian belaka.
Film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani dan menampilkan aktor Reza Rahadian, Julie Estelle, dan Dwi Sasono ini bersetting di Gunung Padang, sebuah situs megalitik yang terletak di Cianjur, Jawa Barat. Setting inilah yang menggugah minat saya terhadap film ini. Seperti yang kita semua ketahui, situs Gunung Padang memang tengah naik daun. Situs yang sudah ditemukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1914 tersebut kembali diteliti.
Banyaknya fakta mencengangkan yang terkuak membuat bangunan yang didirikan pada era sebelum masehi ini menjadi sorotan, sehingga film ini cukup membuat saya penasaran. Semula saya tidak tertarik menulis ulasan mengenai sebuah film, karena film adalah sebuah media audio visual yang tentulah tidak akan lengkap jika hanya dinikmati dengan pendengaran. Namun, kemudian saya berpikir bahwa mungkin akan menarik untuk menginterpretasikan sebuah film dari sudut pandang seorang tunanetra.
Film ini menceritakan mengenai Tomo (Reza Rahadian), seorang jurnalis majalah politik yang banting stir ke majalah mistik karena majalahnya terkena pembredelan. Tomo yang digambarkan sebagai sosok yang idealis ini terpaksa memasuki bidang yang baru ini untuk membiayai keluarganya yang terdiri dari seorang mantan istri dan anak perempuan berusia tiga tahun bernama Lila.
Pada suatu ketika ia mendapat tugas untuk memberitakan mengenai Gunung Padang. Jurnalis ini sempat mengalami kesulitan karena juru kunci Gunung Padang yang dipanggil dengan sebutan Abah Iwan enggan menerimanya. Ia kemudian terpaksa bekerjasama dengan Guntur Samudera (Dwi Sasono) , seorang paranormal yang mengasuh sebuah acara mistik di televisi.
Di sisi lain, seorang arkeolog bernama Dr. Arni Kumalasari (Julie Estelle) terpaksa memimpin ekskavasi di Gunung Padang setelah Profesor Theo (Ray Sahetapy) meninggal mendadak karena serangan jantung. Peristiwa-peristiwa aneh pun terjadi susul-menyusul, sehingga arkeolog ini pun harus bekerjasama dengan Tomo sang jurnalis dan Guntur si paranormal untuk menguak misteri bangunan Gunung Padang. Pada awalnya ketiganya saling tidak menyukai. Perbedaan pendapat pun sering terjadi antara sang paranormal yang akrab dengan dunia yang tak kasat mata dengan Tomo yang sama sekali tidak mempercayai hal-hal mistik, ditambah sang arkeolog yang berpendapat bahwa Indonesia butuh sains, bukan klenik.
Di kemudian hari, diketahui bahwa bangunan purbakala tersebut digunakan untuk memerangkap sesosok iblis jahat sehingga sepantasnya dibiarkan tetap tertutup. Namun Dr. Arni yang tidak mempercayai hal tersebut menolak untuk menghentikan ekskavasi yang dilakukan untuk mencari pintu masuk ke dalam bangunan piramida yang berusia ribuan tahun tersebut, apalagi ia mendapat perintah langsung dari presiden. Ia terus melakukan pekerjaannya dengan pantang menyerah sekalipun dalam suasana yang dipenuhi ketidakwajaran.
Korban-korban yang terus berjatuhan akibat peristiwa-peristiwa aneh di Gunung Padang lama-kelamaan membuat proyek penelitian dihentikan. Dr. Arni, Tomo, dan Guntur kemudian pulang ke tempat masing-masing. Namun, jin penunggu Gunung Padang ternyata mengikuti mereka sehingga kesialan pun tidak kunjung terhenti, bahkan beralih menimpa mereka.
Ketiga tokoh yang mewakili bidang yang berbeda ini kemudian bertemu lagi dan memutuskan untuk kembali ke Gunung Padang untuk mengakhiri rangkaian peristiwa aneh tersebut. Namun malang tak dapat ditolak. Setelah melalui perjuangan yang cukup menegangkan, Guntur yang menghadapi sang jin penunggu Gunung Padang pun tewas. Tomo yang berusaha melawan godaan dari iblis yang dikurung di sana pun meregang nyawa. Namun mereka berhasil menutup pintu neraka, sebuah kiasan yang bermakna menyegel kembali sang iblis di dalam bangunan kuno misterius tersebut.
Film yang diluncurkan pada tahun 2017 ini merupakan selingan yang menarik dalam keseharian saya, apalagi saya memang jarang berkesempatan untuk menonton film. Namun, seperti yang telah diuraikan sebelumnya film adalah media audio visual yang kurang lengkap jika hanya dinikmati dengan pendengaran. Apalagi sound dari film ini tidak seimbang antara sound effect dan dialog-dialognya, dalam artian sound effect-nya keras, namun dialog-dialog dalam film terdengar bervolume kecil dan tidak jelas. Hal ini agak membuat saya merasa kurang nyaman, mengingat saya hanya mengikuti jalan cerita dari dialog-dialognya. Bagi audiens yang dapat menikmati film ini dengan penglihatan dan pendengaran, sound effect seperti itu akan menambah sensasi ketegangan dalam film. Saya pun sependapat, karena sound effect yang mengejutkan juga sering membuat napas saya tersentak, bahkan tertahan. Apalagi jika sound effect itu tiba-tiba terdengar di tengah-tengah suasana hening.
Namun di luar itu saya cukup menikmati film ini. Tema horor yang dipadukan dengan science fiction,, adventure, dan budaya tradisional yang digunakan cukup menarik. Selain itu, hal yang paling mengesankan dari film ini adalah dialog-dialognya yang cukup bermakna. Contohnya adalah perdebatan antara Tomo dan Dr. Arni yang disajikan di bagian awal. Sebagai seorang ilmuwan Dr. Arni memandang bahwa penelitian yang dilakukannya sangat penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia dan dunia. Namun Tomo mengajukan argumen dari sudut pandang lain, yaitu mengenai biaya penelitian yang cukup besar, dan keadaan masyarakat yang belum semuanya merasakan perekonomian yang baik. Dengan demikian, di dalam film ini juga terselip berbagai kritik sosial yang relevan dengan kondisi pada saat ini. Demikian pula dari sisi keagamaan. Seperti yang dikatakan iblis yang berusaha membujuk Tomo untuk membuka pintu, yaitu, “Banyak orang yang mengikuti Dia (Tuhan), namun tidak sedikit yang meragukannya.”
Masih banyak lagi nilai-nilai yang terselip dalam rangkaian adegan dalam film ini. Perbenturan antara idealisme dan realitas menjadi ide utama, dengan diwakili oleh sosok Tomo yang diperankan oleh Reza Rahadian. Keadaan yang menimpanya mau tidak mau mengharuskannya untuk menyesuaikan diri. Dan satu hal yang membuat sosok jurnalis ini menarik adalah bahwa ia sangat menyayangi putrinya. Reza Rahadian yang memerankan sosok Tomo terasa sangat menjiwai perannya sebagai seorang ayah. Bahkan, pada bagian akhir, Tomo meninggalkan pesan untuk anak perempuannya agar selalu berbuat kebaikan walaupun kebaikan itu tidak diketahui orang lain.
Tidak hanya tokoh Tomo saja yang membuat saya cukup terkesan. Tokoh Dr. Arni pun memberikan saya semangat. Tokoh yang diperankan oleh Julie Estelle ini terkesan sangat konsisten. Dialog yang terjadi antara sang arkeolog dengan para mahasiswanya cukup memberikan angin segar bagi saya yang sudah beberapa lama meninggalkan dunia akademis, yaitu setelah kelulusan saya pada tahun 2016.
Tokoh Guntur Samudera sang paranormal pun cukup memberikan pesan penting bagi audiens, yaitu bahwa hal yang tidak terlihat itu bukannya tidak ada. Banyak hal yang tidak dapat dilihat dan dijangkau dengan pancaindera, namun hal-hal tersebut ada di dunia ini.
Dan bagi saya pribadi, film ini telah memotivasi untuk selalu menghormati dan mempelajari budaya peninggalan leluhur, baik itu kebudayaan kita sendiri ataupun kebudayaan lainnya.
Lepas dari nilai-nilai moralnya, film yang diproduksi oleh Legacy Pictures ini juga cukup menghibur. Menonton film Gerbang Neraka membuat ingatan saya tergelitik. Ungkapan “gold, gospel, glory” yang bermakna kekayaan, penyebarluasan agama, dan kejayaan yang terdengar di awal film membuat saya terkenang kembali ketika pertama kali membaca ungkapan tersebut, yaitu di bangku sekolah menengah pertama bertahun-tahun yang lampau. Selain itu, hubungan antara ketiga tokoh utama dalam film ini membuat saya tersenyum sendiri. Memang, salah satu cara untuk meredam konflik antara beberapa pihak adalah dengan menghadapkan mereka pada satu musuh bersama, yang digambarkan dalam sosok sang jin penunggu Gunung Padang dan iblis yang dikurung di tempat tersebut.
Demikianlah ulasan singkat saya tentang film Gerbang Neraka. Masih banyak rincian yang dapat saya uraikan, namun untuk kali ini sekian saja. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca semua. Mari tingkatkan kreativitas kita untuk selalu berbuat yang terbaik dalam setiap bidang yang kita tekuni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s