Samudera di Ujung Jalan Setapak, Sebuah Karya Unik Neil Gaiman

Dalam rangka Hari Buku Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 April ini sya ingin membagikan pengalaman saya membaca sebuah novel. Samudera di Ujung Jalan Setapak adalah sebuah novel karya Neil Gaiman yang diterbitkan pada Agustus 2013. Novel ini memiliki keunikan tersendiri, cukup berbeda dengan novel-novel lainnya yang pernah saya baca sebelumnya.
Banyak yang dapat saya uraikan mengenai buku ini, namun kesan saya yang utama adalah kagum. Ya, saya sangat mengagumi keterampilan penulisnya dalam mengatur perpaduan antara kisah kehidupan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dengan fantasi yang gelap. Perpaduan yang amat mulus , sehingga kisah ini tidak terasa janggal.
Inti kisahnya sendiri sebenarnya cukup sederhana, sebuah kisah yang sudah sangat umum terjadi. Seorang pria setengah baya yang mengenang masa lalunya, saat ia masih berusia tujuh tahun. Ia digambarkan sebagai seorang anak laki-laki kutu buku yang tidak memiliki teman. Satu-satunya teman yang dimilikinya adalah seekor kucing hitam kecil yang diberi nama Fluffy.
Anak laki-laki kecil tersebut tinggal di sebuah rumah sederhana bersama kedua orang tua dan adik perempuannya. Kesulitan ekonomi yang sempat melanda keluarganya membuat ayah dan ibunya memutuskan untuk menyewakan kamar yang semula ditempati oleh anak laki-laki mereka. Penyewa yang datang adalah seorang penambang opal. Namun tragis, si penambang opal lalu bunuh diri.
Di kemudian hari, kedua orang tuanya yang sibuk bekerja memutuskan untuk menerima seorang pengurus rumah tangga yang bernama Ursula Monkthorn. Sang anak laki-laki tidak menyukai pengurus rumah tangga yang baru ini, tidak seperti adik perempuannya yang dapat dikatakan tidak dapat lepas dari Ursula.
Ketika itulah konflik mulai berkembang. Anak laki-laki yang disebutkan baru berusia tujuh tahun itu mulai mengalami hal-hal yang aneh sehubungan dengan pengurus rumah tangga yang baru tersebut, namun orang tua dan adik perempuannya tidak ada yang mempercayainya. Hal-hal tersebut terus berlanjut hingga menjadi bahaya yang mengancam anak tersebut.
Untunglah, keluarga Hamstock yang tinggal di rumah pertanian tidak jauh dari rumah si anak laki-laki selalu menolongnya. Kehidupan keluarga misterius ini dipenuhi dengan hal-hal yang tidak biasa. Misalnya adalah sebuah kolam bebek yang terdapat di ujung jalan setapak, yang oleh Letty Hamstock disebut samudera.
Anak laki-laki kecil tersebut pun menjalin persahabatan dengan Letty Hamstok yang merupakan putri keluarga Hamstock. Bersama-sama mereka melawan kuasa jahat yang menimpa keluarga si anak laki-laki, meskipun akhirnya petualangan yang penuh perjuangan itu pun menuntut pengorbanan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Novel yang memiliki judul asli The Ocean At The End of The Lane ini penuh dengan hal-hal yang fantastis. Sihir pun seolah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan keluarga Hamstock yang misterius, dimana mereka selalu menghadirkan berbagai kejutan. Namun, di luar segala hal fantastis yang mendominasi cerita, terselip pula berbagai hal yang terasa akrab dengan kehidupan sehari-hari. Saat menyimak kisah di dalam buku ini saya sering tersenyum sendiri. Kadang-kadang orang dewasa tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada anak-anak.
Kisah dalam buku ini juga sering membuat saya terharu. Kisah yang diawali oleh seorang pria dewasa yang melakukan napak tilas dengan mengunjungi daerah dimana ia pernah tinggal sewaktu kecil mau tidak mau menggugah kenangan akan masa kecil saya sendiri.
Kisahnya tentu saja sangat berbeda, namun ada satu persamaan yang sangat menonjol. Sebagai anak-anak, kita memandang segala sesuatu dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa. Seorang anak kecil sangat dipenuhi imajinasi, sehingga ia akan selalu menganggap bahwa hal-hal yang baru dijumpainya penuh dengan misteri. Mungkin karena misteri yang membangkitkan rasa penasaran inilah yang membuat anak-anak tidak pernah lelah menjelajah, bahkan sampai membuat kondisi sekelilingnya menjadi berantakan.
Saya akui, di dalam kisah ini banyak terdapat kiasan yang cukup membuat dahi berkerut ketika berusaha menyelami maknanya. Namun, kisah ini tetap menyenangkan untuk dibaca. Gambaran mengenai suasana pertanian dan semua adegan yang terjadi dijelaskan dengan indah sehingga mampu menghibur saya sebagai pembaca. Konflik yang terjadi dalam keluarga, persahabatan yang erat, suasana alam, bahkan kesan-kesan dan pemikiran sang tokoh protagonis disuguhkan dengan bahasa yang puitis sehingga menarik.
Buku ini memang tidak cukup hanya dibaca satu kali, namun di luar itu semua saya sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan membaca buku ini. Kisah ini menambah perbendaharaan bacaan saya karena kisah dan cara penyampaiannya yang unik. Dengan membaca buku ini semakin jelas bagi saya bahwa bahasa hanyalah pembungkus untuk menyampaikan makna yang seringkali amat luas sehingga kadang sangat sulit menemukan diksi yang tepat untuk menggambarkan suatu makna. Makna yang tertangkap pun sangat subjektif, sehingga tidak aneh jika gambaran setiap orang akan suatu objek akan berbeda-beda.
Singkatnya, saya cukup menyukai kisah ini. Novel ini menghadirkan hal-hal baru bagi saya. Novel ini juga sangat berbeda dengan Stardust yang juga ditulis oleh Gaiman. Stardust adalah sebuah fairytale, sedangkan The Ocean at the End of The Lane adalah sebuah kisah fantasi yang bersetting kehidupan sehari-hari. Namun apapun itu, novel ini adalah sebuah referensi yang bagus untuk mengembangkan imajinasi kita, sekaligus juga menyadarkan kita bahwa pikiran setiap orang adalah sebuah dunia tersendiri dimana selalu ada misteri dan detil-detil yang berbeda bagi setiap individu, sebagaimana perkataan Mrs. Hamstock bahwa tidak akan ada dua orang yang mengingat sesuatu secara sama persis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s