All posts by chrysanova

About chrysanova

Saya adalah seorang tunanetra dari Indonesia yang mempunyai hobi menulis.

Chrysanthemum, Bunga Cantik dari Timur

Bunga krisan atau yang di Indonesia kerap disebut seruni ini adalah bunga hias yang sangat digemari, bahkan menduduki peringkat kedua setelah mawar. Namun ternyata peranan bunga cantik yang berasal dari genus Chrysanthemum Ini tidak sekedar sebagai hiasan semata. Mari ikuti penelusuran Chrysanova’s Blog seputar bunga krisan.
Bunga krisan, seruni, atau krisantemum adalah sejenis tumbuhan berbunga yang sering ditanam sebagai tanaman hias pekarangan atau bunga petik. Tumbuhan berbunga ini mulai muncul pada zaman Kapur, 145.5 ± 4.0 hingga 65.5 ± 0.3 juta tahun yang lalu.
Bunga krisan diintroduksi dari daratan Cina ke Jepang pada zaman Nara (710 – 794). Di daratan Cina, krisan sudah dibudidayakan sejak 3.000 tahun yang lalu.
Bunga krisan adalah bagian dari Tumbuhan suku kenikir-kenikiran atau Asteraceae yang mencakup bermacam-macam jenis Chrysanthemum.
Bunga nasional Jepang ini dalam bahasa Jepang disebut sebagai キク (kiku). Karena aromanya yang wangi , bunga ini sering ditambahkan ke dalam teh agar lebih wangi dan nikmat. Namun, kelebihan teh bunga krisan tidak hanya terletak pada citarasa dan aromanya saja. Teh herbal ini pun memiliki banyak manfaat kesehatan, seperti :
1. Memelihara kesehatan jantung
2. Menjaga fungsi mata dan telinga
3. Melawan infeksi bakteri
4. Melancarkan peredaran darah
5. Menurunkan kolesterol
6. Meningkatkan fungsi otak
7. Meredakan stres
8. Memperindah bentuk tubuh
9. Meredakan masalah pernapasan
10. Mengobati perut kembung
11. Meringankan sakit kepala
12. Menetralisir racun.
Tidak hanya untuk kesehatan tubuh, krisan pun bermanfaat sebagai tanaman pengusir nyamuk. Salah satunya sebagai fungisida dan insektisida nabati. Bonggol bunganya mempunyai senyawa piretrin, senyawa yang menghasilkan racun dan bersifat mengusir serta membunuh nyamuk dan serangga lainnya.
Di luar semua manfaat di atas, di Jepang yang dikenal pula sebagai negeri matahari terbit bunga ini sangat penting. Bunga krisan telah lama digunakan sebagai simbol persahabatan. Bahkan, bunga krisan yang memiliki 16 helai daun mahkota digunakan sebagai lambang keluarga kekaisaran Jepang. Bunga ini juga dijadikan lambang kehormatan yang seringkali dicetak dalam bentuk medali untuk diberikan pada para pahlawan, orang-orang penting, juga utusan dari berbagai negara sebagai tanda persahabatan oleh kekaisaran Jepang sejak tahun 1876.
Begitu pula di negeri Asia Timur lainnya. Sejak zaman kuno di Cina, ume, anggrek, bambu, dan krisan disebut empat tanaman raja.
Ume adalah lambang kebangsawanan; anggrek lambang kesucian, bambu lambang kesetiaan, dan krisan adalah lambang kelembutan.
Kiku, sebutan bunga krisan dalam bahasa Jepang memiliki arti kecantikan dan kemurnian, sehingga dianggap mewakili perasaan tulus sahabat. Selain itu, bunga ini dilambangkan sebagai matahari di negeri sakura tersebut. Di Chicago, bunga ini populer sebagai lambang keceriaan, Namun, di negara Austria dan Belgia, bunga ini memiliki makna yang sangat berbeda, yaitu sebagai simbol kematian dan digunakan dalam prosesi pemakaman.
Warna bunga krisan juga mengandung makna yang berbeda-beda, yaitu :
• Krisan merah, dapat mengungkapkan perasaan cinta terhadap lawan jenis.
• Krisan kuning, bermakna kegembiraan, keceriaan dan optimisme.
• Krisan perak, mengungkapkan perasaan sayang terhadap sahabat.
• Krisan ungu, bermakna semangat yang kuat untuk hidup sehat.
• Krisan Putih, bermakna kejujuran dan kesetiaan.
Sedangkan dalam sastra klasik, bunga krisan tidak disebut-sebut dalam antologi puisi tertua Jepang, Manyōshū, tetapi terdapat di dalam Kokin Wakashu Dan Hikayat Genji.
Sejak awal zaman Heian (794 – 1185), bulan 9 (September) di kalender Jepang disebut bulan krisan (kikuzuki), tanggal 9 bulan 9 disebut chōyo no sekku atau kiku no sekku.
Bulan 9 kalender lama adalah musim mekarnya bunga krisan. Pada awal zaman Heian, krisan adalah bunga langka yang didatangkan dari daratan Cina.
Di istana, kalangan bangsawan mengadakan acara apresiasi bunga krisan. Mereka meminum Sake rendaman bunga krisan sambil membaca puisi, sekaligus mendoakan agar panjang umur.
Krisan adalah bunga mahal lambang bangsawan terhormat sehingga minum sake bunga krisan dipercaya membuat peminumnya panjang umur dan dijauhi kedengkian.
Motif bunga krisan disukai orang Jepang karena dianggap sebagai motif pembawa keberuntungan,
dan dipakai sebagai ornamen kimono zaman Heian.
Pada zaman Kamakura (sekitar 1185- sekitar
1333), Kaisar Go-Toba dikenal sangat menyukai bunga krisan dan menggunakan gambar bunga krisan sebagai stempel kekaisaran.
Tradisi menggunakan gambar bunga krisan sebagai stempel diteruskan oleh Kaisar Go-Fukakusa, Kaisar Kameyama, Dan Kaisar Go-Uda. Lambang bunga krisan lalu melekat sebagai lambang istana kekaisaran, khususnya tampak depan bunga krisan bersusun 16 daun mahkota.
Pada zaman Edo (1603 -1867), Keshogunan Tokugawa dengan lambangnya yang disebut mitsuba aoi sangat berpengaruh dan ditakuti rakyat. Lambang mitsuba aoi hanya boleh dipakai oleh Keshogunan Tokugawa.
Namun, tidak selamanya bunga krisan hanya digunakan di kalangan kekaisaran.
Pada perkembangan selanjutnya, penggunaan lambang bunga krisan meluas ke kalangan rakyat biasa. Motif bunga krisan lalu banyak dipakai sebagai lambang keluarga aktor kabuki, merek dagang toko, Motif wagashi (kue-kue dan permen tradisional Jepang)dan ornamen perlengkapan sembahyang.
Lambang bunga krisan kembali dihormati rakyat Jepang pada zaman Meiji eiji)
(25 Januari 1868 -30 Juli 1912). setelah kekuasaan pemerintahan berada kembali di tangan kaisar. Kekuasaan Kaisar Meiji menjadi absolut, dan lambang bunga krisan sebagai simbol istana kekaisaran kembali menjadi lambang yang sangat dihormati.
Lambang bunga krisan dengan 16 daun mahkota digunakan sebagai lambang khusus istana kekaisaran yang dilarang digunakan di luar rumah tangga kekaisaran. Larangan pemakaian lambang bunga krisan 16 daun mahkota berlaku hingga berakhirnya Perang Dunia II.
Mengikuti pemakaian lambang bunga krisan oleh istana kekaisaran, kuil Shinto banyak memakai bunga krisan sebagai lambang kuil. Lambang bunga krisan misalnya dipakai oleh Kuil Takachiho Di Prefektur Miyazaki yang konon berada di tempat Kaisar Jimmu memberangkatkan tentara ekspedisi ke timur.
Variasi desain lambang bunga krisan begitu banyak karena selain dipakai sebagai lambang keluarga Samurai dan kaum bangsawan, lambang bunga krisan juga dipakai sebagai lambang toko dan merek dagang.
Di kalangan rakyat biasa, motif bunga krisan yang populer adalah desain bunga krisan 10 daun mahkota (jūkiku) atau 12 daun mahkota (jūnikiku).
Variasi motif bunga krisan yang juga populer adalah bunga krisan tampak bawah dengan kelopak bunga (urakiku), siluet bunga krisan (kagekiku), dan setengah bunga krisan (hangiku). Motif bunga krisan dengan air mengalir di bawahnya disebut kikusui.
Demikianlah penelusuran Chrysanova’s Blog seputar bunga krisan. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi pembaca semua. Mari pelajari alam kita, karena alam merupakan sumber pengetahuan yang tidak ada habisnya.

Referensi :

 Arti dan Makna Bunga Krisan – BibitBunga.com
 118 Manfaat dan Khasiat Bunga Krisan untuk Kesehatan – Khasiat, khasiat.co.id/bunga/krisan.htmls
 Lambang Bunga Krisan, Wikipedia Bahasa Indonesia
 Menarik! Ini 5 Tanda Persahabatan Khas dari Berbagai Negara teen.co.id/read/3680/menarik-ini-5-tanda-persahabatan-khas-dari-berbagai-negara
 Krisan, Wikipedia Bahasa Indonesia

Samudera di Ujung Jalan Setapak, Sebuah Karya Unik Neil Gaiman

Dalam rangka Hari Buku Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 April ini sya ingin membagikan pengalaman saya membaca sebuah novel. Samudera di Ujung Jalan Setapak adalah sebuah novel karya Neil Gaiman yang diterbitkan pada Agustus 2013. Novel ini memiliki keunikan tersendiri, cukup berbeda dengan novel-novel lainnya yang pernah saya baca sebelumnya.
Banyak yang dapat saya uraikan mengenai buku ini, namun kesan saya yang utama adalah kagum. Ya, saya sangat mengagumi keterampilan penulisnya dalam mengatur perpaduan antara kisah kehidupan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dengan fantasi yang gelap. Perpaduan yang amat mulus , sehingga kisah ini tidak terasa janggal.
Inti kisahnya sendiri sebenarnya cukup sederhana, sebuah kisah yang sudah sangat umum terjadi. Seorang pria setengah baya yang mengenang masa lalunya, saat ia masih berusia tujuh tahun. Ia digambarkan sebagai seorang anak laki-laki kutu buku yang tidak memiliki teman. Satu-satunya teman yang dimilikinya adalah seekor kucing hitam kecil yang diberi nama Fluffy.
Anak laki-laki kecil tersebut tinggal di sebuah rumah sederhana bersama kedua orang tua dan adik perempuannya. Kesulitan ekonomi yang sempat melanda keluarganya membuat ayah dan ibunya memutuskan untuk menyewakan kamar yang semula ditempati oleh anak laki-laki mereka. Penyewa yang datang adalah seorang penambang opal. Namun tragis, si penambang opal lalu bunuh diri.
Di kemudian hari, kedua orang tuanya yang sibuk bekerja memutuskan untuk menerima seorang pengurus rumah tangga yang bernama Ursula Monkthorn. Sang anak laki-laki tidak menyukai pengurus rumah tangga yang baru ini, tidak seperti adik perempuannya yang dapat dikatakan tidak dapat lepas dari Ursula.
Ketika itulah konflik mulai berkembang. Anak laki-laki yang disebutkan baru berusia tujuh tahun itu mulai mengalami hal-hal yang aneh sehubungan dengan pengurus rumah tangga yang baru tersebut, namun orang tua dan adik perempuannya tidak ada yang mempercayainya. Hal-hal tersebut terus berlanjut hingga menjadi bahaya yang mengancam anak tersebut.
Untunglah, keluarga Hamstock yang tinggal di rumah pertanian tidak jauh dari rumah si anak laki-laki selalu menolongnya. Kehidupan keluarga misterius ini dipenuhi dengan hal-hal yang tidak biasa. Misalnya adalah sebuah kolam bebek yang terdapat di ujung jalan setapak, yang oleh Letty Hamstock disebut samudera.
Anak laki-laki kecil tersebut pun menjalin persahabatan dengan Letty Hamstok yang merupakan putri keluarga Hamstock. Bersama-sama mereka melawan kuasa jahat yang menimpa keluarga si anak laki-laki, meskipun akhirnya petualangan yang penuh perjuangan itu pun menuntut pengorbanan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Novel yang memiliki judul asli The Ocean At The End of The Lane ini penuh dengan hal-hal yang fantastis. Sihir pun seolah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan keluarga Hamstock yang misterius, dimana mereka selalu menghadirkan berbagai kejutan. Namun, di luar segala hal fantastis yang mendominasi cerita, terselip pula berbagai hal yang terasa akrab dengan kehidupan sehari-hari. Saat menyimak kisah di dalam buku ini saya sering tersenyum sendiri. Kadang-kadang orang dewasa tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada anak-anak.
Kisah dalam buku ini juga sering membuat saya terharu. Kisah yang diawali oleh seorang pria dewasa yang melakukan napak tilas dengan mengunjungi daerah dimana ia pernah tinggal sewaktu kecil mau tidak mau menggugah kenangan akan masa kecil saya sendiri.
Kisahnya tentu saja sangat berbeda, namun ada satu persamaan yang sangat menonjol. Sebagai anak-anak, kita memandang segala sesuatu dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa. Seorang anak kecil sangat dipenuhi imajinasi, sehingga ia akan selalu menganggap bahwa hal-hal yang baru dijumpainya penuh dengan misteri. Mungkin karena misteri yang membangkitkan rasa penasaran inilah yang membuat anak-anak tidak pernah lelah menjelajah, bahkan sampai membuat kondisi sekelilingnya menjadi berantakan.
Saya akui, di dalam kisah ini banyak terdapat kiasan yang cukup membuat dahi berkerut ketika berusaha menyelami maknanya. Namun, kisah ini tetap menyenangkan untuk dibaca. Gambaran mengenai suasana pertanian dan semua adegan yang terjadi dijelaskan dengan indah sehingga mampu menghibur saya sebagai pembaca. Konflik yang terjadi dalam keluarga, persahabatan yang erat, suasana alam, bahkan kesan-kesan dan pemikiran sang tokoh protagonis disuguhkan dengan bahasa yang puitis sehingga menarik.
Buku ini memang tidak cukup hanya dibaca satu kali, namun di luar itu semua saya sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan membaca buku ini. Kisah ini menambah perbendaharaan bacaan saya karena kisah dan cara penyampaiannya yang unik. Dengan membaca buku ini semakin jelas bagi saya bahwa bahasa hanyalah pembungkus untuk menyampaikan makna yang seringkali amat luas sehingga kadang sangat sulit menemukan diksi yang tepat untuk menggambarkan suatu makna. Makna yang tertangkap pun sangat subjektif, sehingga tidak aneh jika gambaran setiap orang akan suatu objek akan berbeda-beda.
Singkatnya, saya cukup menyukai kisah ini. Novel ini menghadirkan hal-hal baru bagi saya. Novel ini juga sangat berbeda dengan Stardust yang juga ditulis oleh Gaiman. Stardust adalah sebuah fairytale, sedangkan The Ocean at the End of The Lane adalah sebuah kisah fantasi yang bersetting kehidupan sehari-hari. Namun apapun itu, novel ini adalah sebuah referensi yang bagus untuk mengembangkan imajinasi kita, sekaligus juga menyadarkan kita bahwa pikiran setiap orang adalah sebuah dunia tersendiri dimana selalu ada misteri dan detil-detil yang berbeda bagi setiap individu, sebagaimana perkataan Mrs. Hamstock bahwa tidak akan ada dua orang yang mengingat sesuatu secara sama persis.

Berpetualang di Curug Sadim

Subang adalah salah satu kota di Jawa Barat yang memiliki banyak objek wisata, terutama wisata alam. Salah satunya adalah objek wisata air terjun yang bernama Curug Sadim. Curug atau air terjun yang menjadi tempat tujuan saya kali ini terletak di Kecamatan Sagalaherang, salah satu kecamatan di Kabupaten Subang yang berbatasan dengan Bandung.
Kali ini saya tidak hanya berdua dengan Mama, tetapi berlima bersama saudara saya, Mbak Rara dan suami serta putranya yang masih berusia 2,5 tahun. Kami berangkat dari Kota Subang sekitar pukul sepuluh pagi. Meskipun matahari telah tinggi, namun kabut sempat melingkupi perjalanan kami. Tidak aneh, karena mulai dari kawasan Jalancagak hingga memasuki area curug udara memang sangat sejuk karena memasuki wilayah pegunungan.
Hamparan kebun teh mengawal perjalanan kami hingga menjelang kawasan air terjun. Bergantian Mama dan saudara-saudara saya menjelaskan kondisi di sekitar kami. Tidak jauh dari area air terjun tersebut terdapat tempat perkemahan, namun kami tidak menuju ke sana. Kendati demikian Mbak Rara membawa tenda dan perlengkapan berkemah, sehinggga membuat saya heran.
“Lho, mau camping ya Mbak?” tanya saya ketika itu.
“Nggak kok,” kata Mbak Rara. “Itu buat bakar sate.”
Penjelasan itu masih belum jelas bagi saya, namun pertanyaan yang sudah di ujung lidah tidak pernah terucapkan karena mobil berhenti. Kami telah sampai. Sejak memasuki area air terjun, suara aliran air yang relatif deras telah memenuhi pendengaran saya. Suara air mengalir ditambah udara yang sejuk terasa menyenangkan bagi saya yang akrab dengan panasnya udara Kota Subang.
Sambil menikmati perasaan santai yang ditimbulkan oleh suasana tersebut kami menapaki jalanan yang menghubungkan area parkir dengan area curug. Permukaan jalan yang berbatu cukup menyulitkan saya yang tidak terbiasa dengan kondisi tersebut, hingga Mbak Rara dan suaminya harus bergantian membantu saya dan Mama untuk melewati bagian-bagian tertentu dari jalan itu. Memang, bagi saya mengendalikan gerakan kaki bersamaan dengan menjaga keseimbangan bukanlah hal yang mudah.
Untunglah jalan tersebut hanya pendek saja. Kami segera mendirikan tenda dan beristirahat sejenak sambil makan siang dengan bekal yang dibawa dari rumah. Suasana yang sejuk dan alunan gemericik air membuat hidangan yang sederhana tersebut terasa nikmat.
Selesai mengisi perutkami melanjutkan berjalan-jalan sambil sesekali berfoto ria. Menurut Mbak Rara, pemandangan saat itu sangat indah. Area dimana kami berada saat itu terlihat bagaikan di tengah hutan. Jalanan berbatu dan tidak rata yang kami lalui diapit oleh pepohonan berdaun rimbun yang tumbuh berderet dengan diselingi semak-semak dan aneka tumbuhan berukuran kecil.
Di antaranya ada pula tumbuhan arbei dengan buahnya yang manis-manis asam. Ketika itu, kebetulan tumbuhan itu sedang berbuah. Mbak Rara memetik buah-buah tersebut dan membagikannya, sehingga masing-masing dari kami mendapat sebutir buah. Kemudian ada pula pohon bunga terompet dengan bunganya yang berwarna jingga kekuningan. Banyak pula tumbuhan paku yang tersebar di sana-sini. Tidak hanya itu, deretan perbukitan pun melatarbelakangi tempat tersebut, sedangkan air yang tercurah dari ketinggian memanjang menjadi sungai yang mengalir hingga entah ke mana. Semua itu terkumpul di satu tempat, sehingga di Curug Sadim kita dapat menemukan banyak spot foto yang menarik.
Huffy, keponakan saya yang masih balita tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bermain air. Selain Huffy, ada pula beberapa anak lain yang berendam di curug tersebut. Curug Sadim relatif aman bagi anak-anak karena airnya tidak dalam, hanya mencapai betis orang dewasa. Mbak Rara dan Mama bahkan sempat bertegur sapa dengan salah satu keluarga yang sedang bermain air tersebut, yang ternyata bukan warga Subang, melainkan wisatawan dari Bekasi.
Sayangnya, cuaca tidak selamanya cerah. Hujan turun dengan didahului oleh gelegar guntur. Kami langsung mencari tempat untuk berteduh. Beruntung, tidak jauh dari air terjun kami menemukan sebuah area yang cukup terlindung berupa sebuah gubuk yang disediakan bagi pengunjung untuk melepas lelah. Suami Mbak Rara yang akrab disapa dengan nama A Fauzi pun segera memindahkan tenda dan segala perlengkapannya ke gubuk tersebut.
Di bawah naungan atap gubuk yang melindungi kami dari terpaan hujan, pertanyaan saya pun terjawab. Ternyata Mbak Rara berencana untuk mendirikan tenda dan membakar sosis di dekatnya. Bersama Mama Mbak Rara pun beraksi. Setelah lebih dulu menata peralatan, Mama dan Mbak Rara pun membagi tugas. kakak saya tersebut yang membuat bumbu dengan bahan-bahan yang dibawa dari rumah, sedangkan Mama membakar sosis yang ditusuk berbentuk sate.
Suasana pun menjadi riuh. Udara dingin yang mengiringi derasnya hujan pun menjadi hangat oleh api dari panggangan. Sambil sibuk memanggang kami berlima asyik mengobrol sekaligus bermain dengan Huffy. Salah satu hal yang kami perbincangkan adalah film Pengabdi Setan yang sempat diputar di salah satu stasiun TV swasta pada malam tahun baru. Jika ingat hal itu rasanya saya ingin tertawa. Bayangkan kami membakar sosis di tengah hujan sambil membicarakan film horor. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.
Kami lalu asyik menyantap sosis hasil karya Mama dan Mbak Rara sambil menunggu hujan reda. Ternyata hujan tidak segera reda sehingga kami terpaksa menunggu hingga sore hari. Dan ketika hujan reda pada sore hari pun kami berangkat dengan membawa energi baru untuk kembali kepada rutinitas sehari-hari.
Petualangan hari itu sangat menyenangkan bagi saya. Kebersamaan dan kekompakan dalam keluarga adalah hal terpenting yang saya nikmati dalam perjalanan tersebut. Bukan pemandangannya, karena saya yang tunanetra tidak dapat mengetahui pemandangan selain dari cerita yang disampaikan kepada saya. Meskipun begitu, aktivitas dan suasana yang berbeda dengan yang saya alami sehari-hari mampu menjadi selingan yang menyegarkan.
Sekian jalan-jalan saya di Curug Sadim kali ini, semoga tulisan singkat ini dapat memberikan manfaat untuk teman-teman semua. Sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya. Salam Chrysanova’s Blog 🙂

Menelusuri Jejak Peradaban Sunda di Museum Sri Baduga

Gerimis baru saja reda ketika saya turun dari mobil. Udara yang membelai kulit terasa sejuk khas udara setelah hujan reda. Saya menghembuskan napas lega. Sejak di perjalanan menyusuri liku-liku Kota Bandung saya sudah berdebar-debar, takut kalau gerimis yang berketak-ketuk menerpa atap mobil akan berlanjut menjadi hujan yang lebat.

“Cepat yuk, takut hujan lagi,” kata Mama sambil menggandeng sebelah tangan saya. Mendung memang tidak henti-hentinya meliputi langit, menghantui kami dengan bayangan akan turunnya hujan. Dengan bergandengan tangan kami berjalan menyeberangi lahan parkir yang cukup luas. Saya berusaha melangkah secepat-cepatnya untuk mengikuti detak semangat di jantung yang tidak sabar lagi untuk segera menginjakkan kaki di tempat tujuan kami yang beralamat di Jl. BKR no.165 Bandung. Di sekitar saya terdengar suara riuh anak-anak.

“Banyak anak sekolah,” kembali Mama memberitahu saya. Saya mengangguk tanpa terlalu peduli. Pikiran saya hanya tertuju pada satu hal, yaitu mengunjungi gedung yang dulu digunakan sebagai kantor kawedanan Tegalega dan kini terkenal sebagai Museum Sri Baduga.

Museum yang menyimpan koleksi berupa artefak dari kebudayaan Sunda dari masa ke masa ini menggunakan nama raja terbesar dari Pakuan Pajajaran, yaitu Sri Baduga Maharaja atau sering pula disebut Prabu Siliwangi. Ia berkuasa selama 39 tahun, yaitu tahun 1482-1521.

Setelah membayar Rp. 4.000/orang kami melangkahi ambang pintu museum. Berlawanan dengan di luar tadi, suasana lengang menyergap kami di dalam museum. Diam-diam saya mengucap syukur dalam hati. Suasana seperti ini cocok sekali untuk mengeksplorasi isi museum yang sudah lama ingin saya kunjungi tersebut.

Tidak jauh dari pintu masuk kami disambut oleh sebuah batu besar yang bertuliskan beberapa baris kalimat. Menurut keterangan yang tertera, batu tersebut adalah prasasti Kawali, sebuah prasasti peninggalan salah satu kerajaan Hindu di Tatar Sunda, yaitu Kerajaan Galuh. Saya sempat menyentuh batu yang tidak dapat saya peluk karena besarnya.

Berbagai perasaan berbaur di dalam hati, antara senang karena dapat menyaksikan sendiri peninggalan leluhur yang dulu hanya dapat dibaca di buku sejarah, terharu membayangkan perjalanan waktu yang telah dilalui artefak tersebut, dan penasaran. Saya kira setiap orang yang membaca kisah sejarah pasti berpikiran sama, ingin tahu bagaimana kehidupan pada zaman itu dan bagaimana cara membuat prasasti tersebut. Lekuk-lekuk pahatan di permukaan batu tersebut terasa begitu tegas, sehingga ingin rasanya mengetahui teknologi yang ada pada masa itu.

Tidak hanya prasasti Kawali, berbagai prasasti lain dari berbagai kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang pernah hidup dan berkembang di Tatar Sunda pun dapat kita temukan di museum yang dulunya bernama Museum Negeri Propinsi Jawa Barat itu. Di antaranya adalah prasasti Ciaruteun. Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara ini bertuliskan empat baris kalimat dengan aksara Pallawa yang terpahat di permukaannya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan saya pun berfoto dengan artefak-artefak yang merekam perjalanan sejarah Tatar Sunda tersebut sebelum beralih ke koleksi-koleksi lainnya.

Di bagian lain ruangan yang luas tersebut saya menemukan benda-benda koleksi yang bernaung di bawah tema yang berbeda, yaitu Sejarah Alam. Di dalam tema ini, kita akan dapat mengikuti perkembangan alam Bandung sejak masih berupa danau. Bukti keberadaan danau Bandung purba ini antara lain adalah sebuah fosil ikan yang masih relatif utuh. Selain itu, terdapat pula fosil kerang dalam berbagai ukuran.

Beralih dari danau Bandung purba, terdapat pula aneka fosil hewan darat seperti rahang gajah purba atau Stegodon, kuda nil purba, dan hewan-hewan lainnya.   Setelah melewati serangkaian koleksi itu langkah kami mendadak terhenti.

“Subhanallah,” terdengar suara Mama di samping saya. “Ini fosil daun.”

Beliau pun mulai menerangkan kepada saya akan penampilan fosil daun tersebut. Keterangan yang tertera pun dibacakannya. Selagi Mama membacakan, saya menghela napas. Alangkah Maha Kuasanya Allah yang telah memberikan perkenan-Nya sehingga benda-benda dari masa lalu itu dapat terawetkan dengan baik sehingga menjadi sumber informasi bagi generasi mendatang untuk mengetahui tentang masa lalu.

Tidak hanya dari dunia flora dan fauna, lantai pertama Museum Sri Baduga ini juga diisi oleh berbagai artefak yang menunjukkan peradaban manusia pada masa prasejarah di Tatar Sunda.  Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah benda-benda koleksi yang tergabung dalam tema Religi. Di sana terdapat artefak-artefak yang digunakan sebagai sarana ritual penganut kepercayaan animisme dan dinamisme seperti patung-patung nenek moyang dan lain-lain.

Kami sempat berhenti cukup lama di depan tempayan-tempayan yang berupa bekal kubur. Ada pula yang merupakan wadah untuk mengubur jenazah. . Saya amat terkesan, ternyata di zaman prasejarah pun telah terdapat beragam cara untuk memuliakan orang yang sudah meninggal, dari mulai mengubur jenazah dengan menyertakan bekal kubur maupun cara penguburan yang agak unik, yaitu dengan memposisikan jenazah meringkuk di dalam sebuah periuk besar.

Selagi saya dan Mama sedang asyik menjelajahi aneka koleksi yang berasal dari ribuan, bahkan puluhan ribu tahun yang lampau itu, mendadak ruangan menjadi sangat ramai. Rombongan pelajar yang tadi saya dengar di pelataran parkir mengalir masuk ke lantai pertama museum dengan keramaian khas anak-anak. Rupanya mereka adalah rombongan pelajar yang memanfaatkan waktu setelah usainya ujian semester untuk berkaryawisata ke Museum Sri Baduga.

Saya dan Mama pun buru-buru menyingkir, memberi kesempatan pada rombongan yang riuh itu untuk menikmati koleksi di lantai pertama museum. Kami melarikan diri ke lantai kedua yang berisi aneka peninggalan dari zaman ketika agama Islam mulai masuk dan berkembang di Tatar Pasundan.  Beruntung, suasana di lantai dua ini cukup tenang. Hanya ada beberapa orang pengunjung yang asyik melihat-lihat koleksi museum. Seperti di lantai pertama, kami pun asyik berfoto. Terdapat aneka naskah kuno karya para ulama masa itu yang tak luput dari sorotan lensa kamera. Ada juga   kitab-kitab kuno dan koleksi lain yang merupakan jejak penyebaran Islam di masa lampau. Setelah itu kami pun bergeser ke gambar-gambar yang menunjukkan rumah-rumah bangsawan Sunda tempo dulu, replika dapur tradisional, model pakaian para bangsawan Sunda zaman dahulu, dan lain sebagainya.

Selesai dengan lantai dua, kami pun meneruskan penjelajahan kami ke lantai tiga yang merupakan lantai teratas museum. Di penghujung penjelajahan kami di Museum Sri Baduga ini kami mendapati diorama yang menggambarkan aneka kegiatan perekonomian masyarakat Sunda tradisional, seperti memproduksi aneka barang kerajinan, menjadi pandai emas, dan lain sebagainya. Di bagian lain ruangan terdapat pula aneka alat musik tradisional seperti kecapi.

Masih banyak lagi koleksi lainnya, namun waktu yang makin merambat menuju tengah hari mendesak kami untuk mengakhiri penjelajahan hari itu. Kami pun turun melalui tangga, melewati benda-benda yang menceritakan banyak hal yang patut dipelajari mengenai sejarah dan budaya masyarakat Sunda dari masa ke masa. Foto-foto yang telah kami ambil menjadi dokumen penting yang kelak akan kembali bercerita kepada siapapun yang melihatnya mengenai jejak kebudayaan masyarakat Sunda yang tersimpan di Museum Sri Baduga.

Semoga koleksi Museum Sri Baduga dan museum-museum lainnya di Indonesia dapat menjadi bahan perenungan generasi muda untuk menghargai kebudayaannya dan terus melestarikannya sebagai identitas bangsa kita. Demikian pula dinamika alam dan budaya yang telah berlangsung selama jutaan tahun merupakan bahan pembelajaran yang sangat berharga bagi generasi di masa kini maupun di masa depan.

Sampai di sini dulu kisah perjalanan saya kali ini. Sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya. Salam Chrysanova’s Blog.

Gerbang Neraka, Sebuah Film Horor-Adventure Berbumbu Science Fiction

Baru-baru ini saya menonton sebuah film berjudul Gerbang Neraka. Sesuai dengan judulnya yang menyeramkan, film ini bergenre horor. Namun bagi saya Gerbang Neraka memiliki karakteristik sendiri sehingga tidak hanya menyuguhkan kengerian belaka.
Film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani dan menampilkan aktor Reza Rahadian, Julie Estelle, dan Dwi Sasono ini bersetting di Gunung Padang, sebuah situs megalitik yang terletak di Cianjur, Jawa Barat. Setting inilah yang menggugah minat saya terhadap film ini. Seperti yang kita semua ketahui, situs Gunung Padang memang tengah naik daun. Situs yang sudah ditemukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1914 tersebut kembali diteliti.
Banyaknya fakta mencengangkan yang terkuak membuat bangunan yang didirikan pada era sebelum masehi ini menjadi sorotan, sehingga film ini cukup membuat saya penasaran. Semula saya tidak tertarik menulis ulasan mengenai sebuah film, karena film adalah sebuah media audio visual yang tentulah tidak akan lengkap jika hanya dinikmati dengan pendengaran. Namun, kemudian saya berpikir bahwa mungkin akan menarik untuk menginterpretasikan sebuah film dari sudut pandang seorang tunanetra.
Film ini menceritakan mengenai Tomo (Reza Rahadian), seorang jurnalis majalah politik yang banting stir ke majalah mistik karena majalahnya terkena pembredelan. Tomo yang digambarkan sebagai sosok yang idealis ini terpaksa memasuki bidang yang baru ini untuk membiayai keluarganya yang terdiri dari seorang mantan istri dan anak perempuan berusia tiga tahun bernama Lila.
Pada suatu ketika ia mendapat tugas untuk memberitakan mengenai Gunung Padang. Jurnalis ini sempat mengalami kesulitan karena juru kunci Gunung Padang yang dipanggil dengan sebutan Abah Iwan enggan menerimanya. Ia kemudian terpaksa bekerjasama dengan Guntur Samudera (Dwi Sasono) , seorang paranormal yang mengasuh sebuah acara mistik di televisi.
Di sisi lain, seorang arkeolog bernama Dr. Arni Kumalasari (Julie Estelle) terpaksa memimpin ekskavasi di Gunung Padang setelah Profesor Theo (Ray Sahetapy) meninggal mendadak karena serangan jantung. Peristiwa-peristiwa aneh pun terjadi susul-menyusul, sehingga arkeolog ini pun harus bekerjasama dengan Tomo sang jurnalis dan Guntur si paranormal untuk menguak misteri bangunan Gunung Padang. Pada awalnya ketiganya saling tidak menyukai. Perbedaan pendapat pun sering terjadi antara sang paranormal yang akrab dengan dunia yang tak kasat mata dengan Tomo yang sama sekali tidak mempercayai hal-hal mistik, ditambah sang arkeolog yang berpendapat bahwa Indonesia butuh sains, bukan klenik.
Di kemudian hari, diketahui bahwa bangunan purbakala tersebut digunakan untuk memerangkap sesosok iblis jahat sehingga sepantasnya dibiarkan tetap tertutup. Namun Dr. Arni yang tidak mempercayai hal tersebut menolak untuk menghentikan ekskavasi yang dilakukan untuk mencari pintu masuk ke dalam bangunan piramida yang berusia ribuan tahun tersebut, apalagi ia mendapat perintah langsung dari presiden. Ia terus melakukan pekerjaannya dengan pantang menyerah sekalipun dalam suasana yang dipenuhi ketidakwajaran.
Korban-korban yang terus berjatuhan akibat peristiwa-peristiwa aneh di Gunung Padang lama-kelamaan membuat proyek penelitian dihentikan. Dr. Arni, Tomo, dan Guntur kemudian pulang ke tempat masing-masing. Namun, jin penunggu Gunung Padang ternyata mengikuti mereka sehingga kesialan pun tidak kunjung terhenti, bahkan beralih menimpa mereka.
Ketiga tokoh yang mewakili bidang yang berbeda ini kemudian bertemu lagi dan memutuskan untuk kembali ke Gunung Padang untuk mengakhiri rangkaian peristiwa aneh tersebut. Namun malang tak dapat ditolak. Setelah melalui perjuangan yang cukup menegangkan, Guntur yang menghadapi sang jin penunggu Gunung Padang pun tewas. Tomo yang berusaha melawan godaan dari iblis yang dikurung di sana pun meregang nyawa. Namun mereka berhasil menutup pintu neraka, sebuah kiasan yang bermakna menyegel kembali sang iblis di dalam bangunan kuno misterius tersebut.
Film yang diluncurkan pada tahun 2017 ini merupakan selingan yang menarik dalam keseharian saya, apalagi saya memang jarang berkesempatan untuk menonton film. Namun, seperti yang telah diuraikan sebelumnya film adalah media audio visual yang kurang lengkap jika hanya dinikmati dengan pendengaran. Apalagi sound dari film ini tidak seimbang antara sound effect dan dialog-dialognya, dalam artian sound effect-nya keras, namun dialog-dialog dalam film terdengar bervolume kecil dan tidak jelas. Hal ini agak membuat saya merasa kurang nyaman, mengingat saya hanya mengikuti jalan cerita dari dialog-dialognya. Bagi audiens yang dapat menikmati film ini dengan penglihatan dan pendengaran, sound effect seperti itu akan menambah sensasi ketegangan dalam film. Saya pun sependapat, karena sound effect yang mengejutkan juga sering membuat napas saya tersentak, bahkan tertahan. Apalagi jika sound effect itu tiba-tiba terdengar di tengah-tengah suasana hening.
Namun di luar itu saya cukup menikmati film ini. Tema horor yang dipadukan dengan science fiction,, adventure, dan budaya tradisional yang digunakan cukup menarik. Selain itu, hal yang paling mengesankan dari film ini adalah dialog-dialognya yang cukup bermakna. Contohnya adalah perdebatan antara Tomo dan Dr. Arni yang disajikan di bagian awal. Sebagai seorang ilmuwan Dr. Arni memandang bahwa penelitian yang dilakukannya sangat penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia dan dunia. Namun Tomo mengajukan argumen dari sudut pandang lain, yaitu mengenai biaya penelitian yang cukup besar, dan keadaan masyarakat yang belum semuanya merasakan perekonomian yang baik. Dengan demikian, di dalam film ini juga terselip berbagai kritik sosial yang relevan dengan kondisi pada saat ini. Demikian pula dari sisi keagamaan. Seperti yang dikatakan iblis yang berusaha membujuk Tomo untuk membuka pintu, yaitu, “Banyak orang yang mengikuti Dia (Tuhan), namun tidak sedikit yang meragukannya.”
Masih banyak lagi nilai-nilai yang terselip dalam rangkaian adegan dalam film ini. Perbenturan antara idealisme dan realitas menjadi ide utama, dengan diwakili oleh sosok Tomo yang diperankan oleh Reza Rahadian. Keadaan yang menimpanya mau tidak mau mengharuskannya untuk menyesuaikan diri. Dan satu hal yang membuat sosok jurnalis ini menarik adalah bahwa ia sangat menyayangi putrinya. Reza Rahadian yang memerankan sosok Tomo terasa sangat menjiwai perannya sebagai seorang ayah. Bahkan, pada bagian akhir, Tomo meninggalkan pesan untuk anak perempuannya agar selalu berbuat kebaikan walaupun kebaikan itu tidak diketahui orang lain.
Tidak hanya tokoh Tomo saja yang membuat saya cukup terkesan. Tokoh Dr. Arni pun memberikan saya semangat. Tokoh yang diperankan oleh Julie Estelle ini terkesan sangat konsisten. Dialog yang terjadi antara sang arkeolog dengan para mahasiswanya cukup memberikan angin segar bagi saya yang sudah beberapa lama meninggalkan dunia akademis, yaitu setelah kelulusan saya pada tahun 2016.
Tokoh Guntur Samudera sang paranormal pun cukup memberikan pesan penting bagi audiens, yaitu bahwa hal yang tidak terlihat itu bukannya tidak ada. Banyak hal yang tidak dapat dilihat dan dijangkau dengan pancaindera, namun hal-hal tersebut ada di dunia ini.
Dan bagi saya pribadi, film ini telah memotivasi untuk selalu menghormati dan mempelajari budaya peninggalan leluhur, baik itu kebudayaan kita sendiri ataupun kebudayaan lainnya.
Lepas dari nilai-nilai moralnya, film yang diproduksi oleh Legacy Pictures ini juga cukup menghibur. Menonton film Gerbang Neraka membuat ingatan saya tergelitik. Ungkapan “gold, gospel, glory” yang bermakna kekayaan, penyebarluasan agama, dan kejayaan yang terdengar di awal film membuat saya terkenang kembali ketika pertama kali membaca ungkapan tersebut, yaitu di bangku sekolah menengah pertama bertahun-tahun yang lampau. Selain itu, hubungan antara ketiga tokoh utama dalam film ini membuat saya tersenyum sendiri. Memang, salah satu cara untuk meredam konflik antara beberapa pihak adalah dengan menghadapkan mereka pada satu musuh bersama, yang digambarkan dalam sosok sang jin penunggu Gunung Padang dan iblis yang dikurung di tempat tersebut.
Demikianlah ulasan singkat saya tentang film Gerbang Neraka. Masih banyak rincian yang dapat saya uraikan, namun untuk kali ini sekian saja. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca semua. Mari tingkatkan kreativitas kita untuk selalu berbuat yang terbaik dalam setiap bidang yang kita tekuni.

Ikan Raja Laut, Fosil Hidup dari Perairan Sulawesi

Kembali lagi di Chrysanova’s Blog, kali ini kita akan menjelajahi kekayaan alam Indonesia kita tercinta, khususnya dunia fauna. Fauna yang hadir kali ini berasal dari kedalaman laut, lebih dari 180 meter hingga kedalaman 700 meter di bawah permukaan laut. Tempat yang dalam dan dipenuhi biota laut unik, termasuk seekor ikan purba. Ikan purba? Ya, ikan yang hidup di perairan sekitar Pulau Manado Tua Sulawesi Utara ini telah menjelajahi lautan di bumi lebih dulu daripada dinosaurus, tepatnya pada era Devon 380 juta tahun yang lalu. Yang jelas, mereka diyakini sudah punah pada 65 juta tahun yang lalu. Namun, pendapat itu ternyata salah. Dari 120 spesies ikan yang di dunia internasional populer dengan nama Coelacanth ini, ternyata masih tersisa dua spesies yang masih eksis hingga saat ini. Kedua spesies tersebut adalah Latimeria chalumnae atau coelacanth Komoro, dan Latimeria manadoensis yang hidup di Laut Sulawesi. Coelacanth sendiri artinya “duri yang berongga”, dari perkataan Yunani coelia, “κοιλιά” (berongga) dan acanthos, “άκανθος” (duri), merujuk pada duri siripnya yang berongga)
Sesuai namanya, Coelacanth Komoro berhabitat di Samudera Hindia bagian barat, sedangkan coelacanth Manado berasal dari Indonesia, yaitu dari Laut Sulawesi. Kedua jenis ikan purba ini ditemukan secara tidak sengaja. Latimeria chalumni ditemukan pada tahun 1938 di Sungai Chalumna yang terletak di Afrika Selatan bagian timur. Saat itu seekor coelacanth terjaring di dalam pukat hiu oleh kapal yang berlayar di muara Sungai Chalumna. Kapten kapal pukat yang tertarik melihat ikan aneh tersebut mengirimkannya ke museum di kota East London yang ketika itu dipimpin oleh Nn. Marjorie Courtney-Latimer. Seorang iktiologis (ahli ikan) setempat, Dr. J.L.B. Smith kemudian mendeskripsikan ikan tersebut dan menerbitkan artikelnya di jurnal Nature pada tahun 1939. Untuk mengenang sang kurator museum dan lokasi penemuan ikan itu ia memberi nama Latimeria chalumnae kepada sang ikan jenis baru.
Pencarian yang dilakukan selama belasan tahun kemudian menemukan bahwa ikan tersebut berasal dari Kepulauan Komoro di Samudera Hindia sebelah barat. Di sana beberapa ratus individu coelacanth diperkirakan hidup pada kedalaman laut lebih dari 150 m. Di luar kepulauan itu, sampai tahun 1990an beberapa individu juga tertangkap di perairan Mozambique, Madagaskar, Tanzania, dan juga Afrika Selatan. Namun semuanya masih dianggap sebagai bagian dari populasi yang kurang lebih sama.
Lalu bagaimana dengan coelacanth Sulawesi alias Latimeria manadoensis? Ikan purba yang bertempat tinggal di Laut Sulawesi ini juga ditemukan secara tidak sengaja. Pada tanggal 18 September 1997, Arnaz dan Mark Erdmann yang sedang berwisata ke Indonesia untuk berbulan madu melihat ikan aneh dijual di pasar Manado Tua, Sulawesi Utara.
Mark mengira ikan itu adalah seekor gombessa (Coelacanth Komoro), meskipun berwarna cokelat, dan bukan biru. Seorang ahli menyadari foto mereka yang diunggah Ke internet dan menyadari betapa pentingnya penemuan ini. Kemudian Erdmann menghubungi nelayan setempat dan meminta mereka untuk segera mengirimkan ikan seperti ini jika ada tangkapan ikan ini kelak.
Kemudian, Spesimen Coelacanth Indonesia kedua berukuran panjang 1,2 meter dan berat 29 kg., berhasil ditangkap hidup-hidup pada 30 Juli 1998. Ikan ini tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara. Ikan ini sudah dikenal sejak lama oleh para nelayan setempat, bahkan telah populer dengan sebutan ikan raja laut. Namun, dunia ilmu pengetahuan belum mengetahuinya sehingga penemuan tersebut menjadi awal dikenalnya ikan raja laut oleh dunia internasional. Ikan ini sempat hidup selama enam jam, memungkinkan ilmuwan untuk mendokumentasikan lewat foto, warnanya, gerakan sirip, dan perilaku umum ikan ini. Spesimen
ini kemudian diawetkan dan disumbangkan ke Museum Zoologicum Bogoriens (MZB), bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Tes DNA menunjukkan bahwa spesimen ini secara genetik berbeda dari populasi coelacanth di kepulauan Komoro, Samudra Hindia Barat.
Ikan raja laut tersebut kemudian dikirimkan kepada seorang peneliti Amerika yang tinggal di Manado, Mark Erdmann, bersama dua koleganya, R.L. Caldwell dan Moh. Kasim Moosa dari LIPI. Penemuan ini kemudian dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature.
Maka kini orang mengetahui bahwa ada populasi coelacanth yang kedua, yang terpisah menyeberangi Samudera Hindia dan pulau-pulau di Indonesia barat sejauh kurang-lebih 10.000 km. Belakangan, berdasarkan analisis DNA-mitokondria dan isolasi populasi, beberapa peneliti Indonesia dan Prancis mengusulkan ikan raja laut sebagai spesies baru Latimeria menadoensis.
Pada bulan Mei 2007, seorang nelayan Indonesia menangkap seekor coelacanth di lepas pantai Provinsi Sulawesi Utara. Ikan ini memiliki ukuran sepanjang 131 centimeter dengan berat 51 kg ketika ditangkap. Di Bunaken juga pernah ditemukan seekor coelacanth hidup berenang dengan bebasnya.
Secara fisik ikan raja laut mirip dengan coelacanth Komoro, hanya saja ikan ini berwarna kecoklatan, sedangkan coelacanth Komoro bersisik biru baja. Coelacanth memiliki ciri khas ikan-ikan purba, ekornya berbentuk seperti sebuah kipas, matanya besar, dan sisiknya terlihat tidak sempurna (seperti batu). Ukurannya kira-kira 2/3 tubuh orang dewasa dan berwarna ungu gelap ,.
Namun sayangnya, ikan purba yang merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia ini sudah langka.
IUCN Red Lisg Bahkan telah memasukkannya dalam daftar dengan dengan kategori rentan. Di Indonesia, ikan raja laut termasuk ikan yang dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999. Satu spesies lainnya, Latimeria chalumnae (Coelacanth Samudra Hindia Barat) masuk dalam daftar terancam kritis.
Habitat ikan coelacanth Indonesia berada di sekitar perairan Laut Sulawesi, terutama di sekitar Pulau Manado Tua, perairan Malalayang, Teluk Manado, dan di perairan Talise, Minahasa Utara. Habitat ikan coelacanth berada pada kedalamanan lebih dari 180 meter dengan suhu maksimal 18 derajat Celsius.
Pada beberapa kesempatan penelitian langsung di habitat aslinya, Coelacanth ditemukan berdiam di mulut goa batuan lava bawah laut. Keunikan paling nyata ikan ini adalah keberadaan sepasang sirip dada, sirip perut, satu sirip anal (bagian belakang bawah), dan satu sirip punggung yang tidak menyatu dengan tubuh, tetapi menjulur, bercuping, dan berdaging seperti tungkai. Untuk tetap pada posisinya, coelacanth menggerakkan sirip perut dan sirip dadanya seperti dayung. Gerakan maju datang dari sirip anal dan sirip punggung belakang. Rahang atas coelacanth dapat bergerak membuka seperti rahang bawah. Dengan kemampuan itu, coelacanth yang merupakan ikan karnivora dapat memangsa ikan yang lebih besar. Yang lebih unik lagi, coelacanth menetaskan telurnya di dalam perut, bukan di luar tubuhnya.
Bagi yang ingin melihat penampilan ikan yang lumayan menyeramkan ini, di Indonesia spesimen coelacanth Indonesia awetan kering disimpan dalam peti kaca dan dipamerkan di Seaworld Indonesia, Jakarta. Sedangkan di Indonesia, setidaknya ada dua awetan basah coelacanth Indonesia, yakni yang disimpan di Museum Biologi LIPI di Cibinong dan di Manado.
Demikianlah perkenalan singkat kita dengan ikan yang diyakini merupakan leluhur para makhluk darat atau tetrapoda, tidak terkecuali manusia. Mari kita cintai alam kita. Dengan melestarikan alam ciptaan Tuhan, kita akan mendapatkan bahan pembelajaran yang sangat berharga bagi kita dan generasi mendatang. Salam Chrysanova’s Blog, sampai jumpa di tulisan-tulisan selanjutnya.

Referensi :

 Alamendah’s Blog

 Wikipedia Bahasa Indonesia

Goal Ball, Olahraga Unik Para Penyandang Tunanetra

Dunia disabilitas memiliki warna-warni yang seringkali dianggap sebagai hal baru bagi orang awam. Tak terkecuali olahraga goal ball. Nama olahraga ini mungkin bagi masyarakat Indonesia cukup asing. Padahal olahraga ini telah lama ada, yaitu sejak tahun 1946. Ketika itu Hanz Lorenzen dan German Sepp Reindle dari Austria menggunakan olahraga ini untuk membantu rehabilitasi para korban perang dunia ke-2 yang mengalami ketunanetraan.
Sejak saat itu goal ball terus mengalami perkembangan hingga pada tahun 1976 cabang olahraga ini pun resmi masuk dalam cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Olimpiade Paralympic.
Di Indonesia jenis olahraga ini tergolong masih baru. Di negeri ini Goal ball pertama kali dipertandingkan pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV 2016 Jawa Barat. Dan di tahun 2018 cabang olahraga ini pun tidak ketinggalan menjadi salah satu dari delapan belas cabang olahraga yang dipertandingkan di ajang Asian Para Games.
Olahraga ini terbilang unik karena hanya wasitlah yang memiliki hak untuk berbicara di arena pertandingan. Selain wasit, tidak seorang pun yang diperkenankan bersuara, baik di lapangan maupun di sekitarnya. Pasalnya, para atlet goal ball yang semuanya adalah tunanetra mutlak membutuhkan keheningan untuk dapat berkonsentrasi mendeteksi arah bola dengan pendengaran mereka.
Bahkan, suara-suara asing akan membuat wasit meneriakkan kata “Noise!” sehingga pertandingan dihentikan. Mengapa bisa begitu? Jawabannya adalah karena suara-suara tersebut akan mengganggu konsentrasi pemain, sekaligus menutupi suara bola. Agar pemain dapat lebih jelas mendengar suara bola, bola yang digunakan diisi dengan lonceng agar dapat berbunyi sesuai gerakan bola. Bolanya sendiri terbuat dari karet seukuran bola basket. Bola tersebut juga didesain memiliki ruang udara agar bola tidak memantul terlalu tinggi.
Bagi pemain sendiri, berbicara atau mengeluarkan suara merupakan pelanggaran yang dapat membuat mereka dikeluarkan dari lapangan. jika ada pemain yang berteriak sebanyak dua kali, maka hal tersebut digolongkan sebagai pelanggaran sehingga pemain dikeluarkan dari area pertandingan.
Sebelum pertandingan dimulai kembali wasit akan menenangkan keadaan dengan berteriak “Quiet, please”. Pertandingan pun akan dimulai kembali dengan aba-aba “Play!” ketika suasana sudah hening.
Cabang olahraga ini dimainkan oleh dua tim atau perorangan yang saling berhadapan. Cara bermainnya adalah dengan menggelindingkan bola ke arah gawang lawan.
Lawan akan berjaga di area depan gawang untuk menghindari bola masuk yang akan menambah poin pemberi umpan.
Jika dimainkan secara tim, masing-masing tim dalam goal ball beranggotakan tiga pemain yang bertugas menjaga gawang. Jadi, Mereka bertugas membobol gawang lawan sekaligus menjaga gawang sendiri. Gawangnya sendiri berukuran panjang 9 meter dan tinggi 130 centimeter.
Untuk Lapangannya, dibagi menjadi tiga bagian yaitu ada landing area, netral area dan team area untuk melempar bola. Landing area merupakan daerah yang berada di depan garis
gawang sedangkan netral area berada di tengah lapangan dan team area merupakan daerah gawang.
Masing-masing lawan akan berlomba memasukan bola ke gawang.
Lemparan pemain harus mencapai landing area. Jika tidak mengenai landing area atau jika lemparan melebihi landing area, maka wasit akan memberikan penalti atau dikenal dengan istilah high ball. Pemain juga tidak boleh melempar lebih dari empat kali. Jika wasit sudah meneriakkan “Play!”, namun pemain tidak juga melemparkan bola hingga 10 detik maka hal itu tergolong pelanggaran, sehingga terjadilah penalti. Penalti dilakukan dengan melemparkan bola ke gawang lawan yang dijaga oleh salah seorang pemain, dan gol terjadi apabila bola berhasil masuk ke gawang. Ketika pemain mencetak gol, maka wasit akan bersiul sebanyak dua kali untuk menandakan perolehan poin. Tim dengan perolehan gol terbanyak dalam batas waktu permainan yang berlangsung 2×12 menit pun akan menjadi pemenang.
Perlengkapan yang dipakai atlet selama berlaga di antaranya penutup mata, jersey, sepatu, dan pelindung lutut, tulang kering, dan siku.
Demikianlah sekelumit penelusuran saya tentang olahraga goal ball. Dengan semangat dan kreativitas kondisi tunanetra tidak akan menghalangi kita untuk mengukir prestasi dan mengharumkan nama bangsa. Mari terus berolahraga, karena dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
Referensi :

 Asian Para Games 2018, Mengenal Cabor Goal Ball untuk Tunanetra – Kompas.com, , bola.kompas.com/read/2018/09/12/20320058/asian-para-games-2018-mengenal-cabor-goal-ball-untuk-tunanetra
 Mengenal ‘Goal Ball’, Olahraga Baru Untuk Tunanetra | | Arah.Com, , arah.com/article/13764/mengenal-goal-ball-olahraga-baru-untuk-tunanetra.html
 Mengenal Goalball, Olahraga untuk Atlet Tunanetra di Asian Para Games 2018 – Tribun Solo, solo.tribunnews.com/2018/09/19/mengenal-goalball-olahraga-untuk-atlet-tunanetra-di-asian-

Boccia, Olahraga Unik Para Penyandang Cerebral Palsy

Sejak tanggal 6 Oktober 2018 yang lalu Indonesia telah menyelenggarakan pesta olahraga difabel Asia atau Asian Para Games. Event akbar tingkat Asia ini tidak dapat dipungkiri menyuguhkan banyak hal baru bagi masyarakat, mulai dari cabang olahraga yang dimodifikasi hingga cabang olahraga yang sama sekali baru.
Di antara cabang-cabang olahraga yang selama ini sangat jarang dan nyaris belum pernah kita dengar adalah olahraga boccia. Bagi masyarakat Indonesia nama olahraga ini mungkin masih asing, padahal , olahraga khusus para penyandang cerebral palsy ini sudah diperkenalkan di ajang olahraga multi event Paralimpiade 1984. Hal ini dapat dipahami mengingat boccia baru diperkenalkan di negeri kita pada Peparpenas (Pekan Paralimpian Pelajar Nasional) pada 7-14 November 2017 di Solo.
Pertandingan tersebut diikuti oleh tujuh provinsi yang lolos kualifikasi, di mana terdapat 15 provinsi yang berpartisipasi mendaftarkan diri saat itu.
Boccia sendiri merupakan permainan melempar bola dengan tujuan mencapai atau mendekati satu target atau titik, dengan bola yang berdiameter 100 milimeter dan berat 275 gram. Permainan ini dirancang untuk para atlet penyandang Cerebral palsy, dimana Celebral palsy merupakan disabilitas saraf motorik yang diakibatkan oleh gangguan pada otak.
Ada tiga warna bola dalam Boccia, yakni putih, merah, dan biru. Bola putih disebut dengan bola Jack yakni sasaran lempar bola merah dan enam bola biru yang dipegang tim.
Tim yang mendapatkan poin adalah tim yang hasil lemparan bolanya paling mendekati bola Jack.
Semakin dekat jarak bola dengan sasaran, semakin besar kesempatan untuk memenangkan pertandingan.
Jarak bola dihitung menggunakan alat ukur yang berbentuk seperti jangka.
Pelemparan bola dilakukan bergantian. Durasi pertandingannya juga berbeda di setiap nomor. Durasi empat menit untuk individu, lima menit untuk pasangan, dan enam menit untuk beregu.
Terdapat tiga nomor pertandingan di boccia, yakni nomor individu, pasangan, dan beregu yang pemainnya terdiri dari tiga orang BC 1 (1 orang) dan BC2 (dua orang).
Untuk nomor individu, ada empat kategori pertandingan, yakni BC1, BC2, BC3, dan BC4.
Sebelum memulai permainan akan dilakukan pengukuran bola. Dari diameter, berat, dan laju bola. Andai ditemukan berat bola tak lebih dari 287 gram dan tak
kurang dari 263 gram, maka masih bisa digunakan.
Ukuran lapangan boccia 12,5 meter x 6 meter. Area wheel chair untuk melempar bola 2,5 meter x 1 meter, dan 10 meter sisanya untuk area pertandingan. Ada enam kotak, semua terisi penuh saat menggelar pertandingan beregu.
Masing-masing pemain melempar dua bola. Sementara untuk permainan berpasangan, tiap orang melempar tiga bola, dan untuk tunggal melempar enam bola. Durasi pertandingannya berbeda-beda. Empat menit untuk tunggal, lima menit untuk pasangan, dan enam menit untuk tim beregu.
Bagaimana cara bermainnya? Ada tiga warna dalam boccia: putih, merah, dan biru. Putih merupakan bola jack, bola pertama yang dilempar olah salah satu tim.
Bola ini yang akan menjadi sasaran lempar enam bola merah dan enam biru yang dipegang para tim.
Bola yang terdekat dengan jack yang dihitung poin. Ada dua wasit yang memimpin pertandingan. Satu wasit utama, yang dibantu satu line person. Mereka yang
mengukur jarak bola terdekat dengan jack menggunakan alat ukur yang berbentuk mirip jangka.
Pelemparan bola dilakukan bergantian. Namun jika tim lawan belum bisa melampaui lemparan yang paling dekat dengan jack, maka timnya akan melempar terus, bahkan sampai bola habis.
Kalau gagal melakukan lemparan yang lebih baik dibanding lawan, berarti memberi peluang tim pesaing mendapat poin lebih banyak.
Pelanggaran di dalam permainan ini terjadi apabila pemain menginjak garis area wheel chair. Hukumannya, tim lawan mendapat tambahan waktu satu menit.
Dalam Asian Para Games 2018 yang berlangsung pada bulan Oktober ini boccia termasuk cabang olahraga yang akan dipertandingkan. Indonesia sebagai tuan rumah pun tidak ketinggalan mengirimkan wakilnya untuk olahraga boccia. Indonesia mengirimkan delapan atlet untuk bertanding dalam 5 nomor di kelas BC1, BC2, dan BC4.
Atlet maupun official tidak menargetkan medali mengingat pesaing, seperti China, Korea Selatan, dan negara asia lainnya telah mengenal dan mendalami olahraga
ini jauh lebih dulu daripada Indonesia.
Demikianlah sekelumit penelusuran saya tentang olahraga boccia. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat untuk pembaca semua. Sampai jumpa di tulisan-tulisan mendatang. Mari tingkatkan kreativitas dan semangat kita untuk terus mengukir prestasi dan mengharumkan nama bangsa.

Referensi :
 Berkenalan dengan Olahraga Boccia – Kompas.com
 , kompas.com/read/2018/09/12/15000088/berkenalan-dengan-olahraga-boccia
 Mengenal Boccia olahraga kaum cerebral palsy – ANTARA News
 , antaranews.com/berita/669157/mengenal-boccia-olahraga-kaum-cerebral-palsy
 Mengenal Boccia, Olahraga untuk Penyandang Disabilitas Celebral Palsy, sport.detik.com/sport-lain/3958738/mengenal-boccia-olahraga-untuk-penyandang-disabilitas-celebral-palsy
image/f

Basket Kursi Roda, Olahraga Unik Para Pengguna Kursi Roda

Pada masa kini olahraga basket bukan olahraga yang asing lagi bagi masyarakat. Lapangan basket serta ring basket sudah menjadi pemandangan lumrah di sekolah-sekolah. Turnamen-turnamen basket pun tidak jarang digelar di masyarakat, mulai dari acara Porseni hingga sekelas NBA atau National Basketball Association di negeri Paman Sam. Pertandingan berlangsung sangat dinamis dimana para pemain berlarian ke sana kemari, menggiring bola, hingga melemparkannya ke dalam ring.
Namun bagaimana dengan teman-teman kita yang duduk di kursi roda? Ternyata, teman-teman kita yang duduk di kursi roda pun tidak mau kalah. Mereka pun dapat memainkan bola basket, tentunya dengan sedikit penyesuaian. Bahkan, olahraga bola basket yang dimainkan sambil duduk di atas kursi roda ini sudah sering dipertandingkan di ajang internasional seperti Paralimpiade. Demikian pula pada event Asian Para Games yang berlangsung pada tanggal 6 hingga 13 Oktober di stadion Gelora Bung Karno, olahraga ini terdapat pula dalam daftar cabang olahraga yang akan dipertandingkan.
Basket kursi roda pertama kali dimainkan di dua rumah sakit veteran Perang Dunia II yaitu di Corona Naval Station, California, dan Framingham, Massachusetts,
Amerika Serikat, pada tahun 1945. Kemudian, tahun 1948, veteran perang Inggris mulai memainkan olahraga ini di rumah sakit Stoke Madeville.
Turnamen basket kursi roda pertama diadakan di Illinois, Amerika Serikat, pada tahun 1949. Setelah itu, National Wheelchair Basketball Association NWBA
resmi berdiri di Amerika Serikat. Kemudian pada Paralympic Games 1960 di Roma, Italia, basket kursi roda dipertandingkan secara resmi. Ketika itu olahraga ini hanya diperuntukkan bagi atlet putra. Namun Di 1968, atlet putri juga turut ambil bagian dalam pertandingan ini.
Sedangkan di Indonesia sendiri basket kursi roda masih terhitung baru. Olahraga ini dibawa oleh Donald Santoso yang kini menjadi kapten timnas basket kursi roda Indonesia pada awal tahun 2018. Donald yang menempuh pendidikannya di Amerika Serikat ini pula yang membentuk timnas basket kursi roda. Proses pembentukan tim ini tidak mudah. Belum adanya atlet basket kursi roda di negeri ini ketika itu membuat Indonesia harus menyeleksi para difabel yang mempunyai basic di cabang olahraga lainnya untuk menjadi atlet basket kursi roda.
Dalam seleksi itu akhirnya terbentuklah tim tersebut, dengan Donald Santoso sebagai kapten. Donald adalah seorang warga negara Indonesia yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itulah ia memperoleh pengalaman bermain basket kursi roda, bahkan ia terpilih untuk memperkuat tim kampusnya, yaitu Arizona State University untuk berlaga di National Wheelchair Basketball Association (NWBA. Pengalaman inilah yang membuatnya terpilih menjadi kapten tim basket kursi roda Indonesia.
Olahraga yang terhitung baru di Indonesia ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki cabang olahraga lain.
Keunikan dari cabang olahraga baru ini tidak hanya terletak pada penggunaan kursi roda sebagai sarana pergerakan pemain. Menurut Pelatih nasional basket kursi roda Indonesia, Fajar Brillianto, mengatakan keistimewaan pebasket kursi roda adalah semangatnya.
“Semangat mereka di atas rata-rata atlet pada umumnya,”
ujarnya.
Selain semangat, ada keistimewaan lain pemain basket kursi roda, yang belum tentu dimiliki pebasket pada umumnya. Berikut ini tiga keistimewaannya.
1. Kemampuan mengendalikan kursi roda
Halangan paling mendasar saat menjadi pebasket kursi roda adalah menguasai kursi roda sambil mengontrol bola. Kemampuan ini perlu dimiliki agar pemain basket tidak pecah perhatiannya dan kehilangan kontrol permainan saat membawa bola. Selain itu, kursi roda merupakan pengganti kaki sebagai alat mobilitas.
2. Kekuatan otot lengan, punggung, dan bahu
Ketiga bagian tubuh ini diperlukan saat melakukan gerakan-gerakan dalam basket. Seperti dribble bola, layup, dan menembakkan bola ke keranjang. Karena tinggi ring basket yang digunakan tidak berbeda dengan untuk pemain biasa, pebasket kursi roda perlu memiliki kekuatan otot lengan yang lebih besar. Kekuatan ini diperlukan untuk memberikan tekanan ketika menembakkan bola ke keranjang. Musababnya, pebasket kursi roda memiliki posisi yang lebih pendek dari pebasket
biasa.
3. Kekuatan otot pinggang
Kekuatan otot pinggang diperlukan saat pemain harus melakukan gerakan berputar atau menghindar. Menurut Fajar, saat melakukan gerakan berputar, pemain basket kursi roda memusatkan kekuatannya pada otot pinggang. Sebab, yang diputar bukan hanya badan bagian atas, tapi juga semua bagian kursi roda.
Di luar itu, olahraga ini tidak jauh berbeda dengan basket tradisional. Lapangan bola basket berbentuk persegi panjang dengan dua standar ukuran, yakni panjang 28,5 meter dan lebar 15 meter untuk standar National Basketball Association, dan panjang 26 meter dan lebar 14 meter untuk standar Federasi Bola Basket Internasional. Sedangkan keranjang memiliki ketinggian yang sama dengan bola basket tradisional, yaitu 3,05 meter dari tanah. Pertandingan berlangsung selama 4×10 menit dengan waktu Tembakan atau Shot Clock 24 detik.
Hal lain yang membedakan bola basket kursi roda dengan bola basket tradisional adalah sistem penilaian yang digunakan. Pada bola basket kursi roda sistem penilaian berdasarkan kepada tingkat kerusakan motorik pemain.
Pada awalnya, pemain yang bermain tidak boleh melebihi total poin 14.
Pemain juga diharuskan memiliki kartu dengan skor dan juga modifikasi yang mereka miliki di kursi roda.
Kursi roda yang digunakan dalam pertandingan ini juga tidak sembarangan. Benda yang digunakan untuk menopang pergerakan para pemain ini merupakan elemen penting dalam pertandingan, sehingga diperlukan peraturan tersendiri sebagai berikut :
• Kursi harus memiliki roda 3 ke 4, dan 2 belakang harus berukuran besar;
• Ban belakang harus berdiameter maksimal 66 centimeter dan harus memiliki dukungan tangan.
• Tinggi aksen maksimum harus 53 inci dari lantai dan pijakan kaki harus berada di 11 inches.
• Pemain mungkin memiliki bantalan dalam aksen hingga 10 sentimeter kecuali untuk pemain yang diberi peringkat 3.0 atau lebih tinggi, yang memiliki maksimum
5 sentimeter.
• Ban hitam, peralatan kemudi dan rem dilarang.
Aturan Dasar Bola Basket di Kursi Roda
Sekarang mari kita amati beberapa aturan dasar Basket kursi roda:
– Seorang pemain dianggap di luar lapangan saat kursinya setidaknya sedikit di luar batas lapangan atau sedang menginjak garis.
– Jika pemain melempar bola ke lawan untuk mengeluarkan bola, bola akan menjadi milik lawan.
Seorang pemain basket kursi roda membutuhkan satu atau dua dorongan saat bola berada di tangan atau di pangkuannya. Lebih dari dua dorongan, dianggap travelling.
– Pemain mungkin tidak lebih dari 3 detik di area yang membatasi lawan, kecuali bola di udara jika menerima rebound atau bola mati.
– Jika pemain memiliki bola dan ditekan oleh lawan, dia hanya bisa memiliki bola yang dimilikinya tanpa melempar atau menggiring bola selama 5 detik.
– Tim yang memiliki bola memiliki 10 detik untuk melewati garis tengah ke lapangan lawan.
Sejak menerima bola, setiap tim memiliki waktu 24 detik untuk menyerangnya, yang selesai saat bola dilemparkan dan paling sedikit menyentuh bola basket.
Demikianlah sekelumit gambaran mengenai olahraga bola basket kursi roda. Dengan kreativitas dan semangat kita sebagai kaum penyandang disabilitas tidak mustahil mendapatkan kesuksesan. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya, salam akselerasi. (cpd)

Referensi :
 Basket di Kursi Roda [ Sejarah, Aturan, … ] – SportsRegras, sportsregras.com/id/basket-di-kursi-roda-sejarah-aturan/
 Harapan Baru Basket Kursi Roda Indonesia – mainbasket.com, mainbasket.com/r/2818/harapan-baru-basket-kursi-roda-indonesias
 3 Kemampuan Pebasket Kursi Roda yang Tak Dimiliki Pebasket Biasa – difabel Tempo.co, difabel.tempo.co/read/1105908/3-kemampuan-pebasket-kursi-roda-yang-tak-dimiliki-pebasket-biasa

Asian Para Games 2018 dan Kreasi Batik Nusantara

Asian Para Games yang digelar pada tanggal 6 hingga 13 Oktober 2018 telah sukses menginspirasi banyak pihak, sesuai dengan semboyannya Inspiring Spirit and Energy of Asia. Berbagai persiapan pun telah dilakukan sejak jauh-jauh hari, tidak hanya oleh panitia penyelenggara, tetapi juga oleh masyarakat. Semua menyambut event akbar olahraga penyandang disabilitas ini dengan antusias, termasuk dengan menonjolkan unsur budaya lokal dalam euforia ini. Kali ini Chrysanova’s Blog akan mengajak teman-teman semua untuk menelusuri keterlibatan batik dalam kemeriahan Asian Para Games 2018.
Kita mulai dari sebuah kabupaten di propinsi Jawa Tengah, yaitu Blora. Para pebatik difabel di kabupaten yang berbatasan langsung dengan propinsi Jawa Timur ini menyambut event Asian Para Games dengan cara yang luar biasa. Mereka menciptakan batik bermotif Asian Para Games. Batik yang merupakan kreasi para penyandang disabilitas ini didedikasikan kepada atlet difabel yang berjuang untuk Indonesia. Para pebatik difabel yang tergabung dalam Komunitas Difabel Blora Mustika ini juga berharap batik motif Asian Para Games bisa mendapat respons positif dari pecinta batik Nusantara.
Batik karya para difabel Blora yang dibuat dengan teknik cap ini didominasi dengan warna dasar hitam. Motifnya juga beragam. Ada gambar maskot Asian Para Games berupa elang bondol yang diberi nama momo. Ada pula motif daun jati khas Blora. Ada juga yang bermotif pelangi dan bintang sebagai bentuk perwujudan harapan untuk meraih mimpi. Selain itu ada juga gambar seorang atlet yang duduk di atas kursi roda.
Peluncuran batik Asian Para Games itu diharapkan dapat memberikan motivasi berlipat kepada atlet Indonesia yang akan bertanding. Apalagi, di event sebelumnya
yakni Asian Games yang berlangsung 18 Agustus-2 September, kontingen Indonesia menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih 31 medali emas.
Tidak hanya pada kain batik, keterlibatan motif tradisional warisan leluhur bangsa Indonesia ini juga terdapat pada obor Asian Para Games. Obor yang berwarna kuning emas tersebut dihiasi dengan ornamen batik, yaitu batik parang. Penggunaan motif batik ini bukan tanpa alasan. Motif ini digunakan untuk menonjolkan ciri khas seni budaya tradisional Indonesia. Motif batik parang sendiri berasal dari daerah Solo dan sekitarnya. Motif ini muncul dan berkembang sejak zaman kerajaan Mataram Islam.
Beberapa sumber mengatakan bahwa Parang adalah patokan awal motif dasar batik. Desain diagonal dengan ukiran di setiap sela garisnya banyak diadopsi oleh
motif-motif di daerah lain. Oleh karena itu, motif ini dikatakan sebagai salah satu motif tertua yang ada hingga saat ini.
batik ini sering dijadikan sebagai hadiah oleh raja-raja kepada anak-anaknya. Di sisi lain, bentuk garis diagonal merupakan perlambangan penghormatan dan cita-cita. Dinamika pola tersebut juga dapat diartikan sebuah kesetiaan, ketangkasan, kewaspadaan, serta kontinuitas antara pekerja satu dengan yang lain. Karena hal inilah batik Parang sering dikenakan di acara-acara pembukaan pada zaman kerajaan. Contonya pada saat seorang Senopati akan berangkat ke medan peperangan.
Apa sebenarnya batik itu? Batik adalah Kain bergambar yang dibuat secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malan pada kain, kemudian diproses dengan cara tertentu yang memiliki kekhasan.
Batik Indonesia, sebagai keseluruhan Teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.
Secara etimologi, kata batik berasal dari bahasa Jawa, “ambhatik” dari kata “amba” berarti lebar, luas, kain; dan “titik” berarti titik atau “matik” (kata kerja dalam bahasa Jawa berarti membuat titik) dan kemudian berkembang menjadi istilah batik, yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang luas atau lebar. Batik juga mempunyai pengertian segala sesuatu yang berhubungan dengan membuat titik-titik tertentu pada kain mori. Dalam bahasa Jawa, batik ditulis dengan “bathik”, mengacu pada huruf Jawa “tha” yang menunjukan bahwa batik adalah rangkaian dari titik-titik yang membentuk gambaran tertentu.
Batik sangat identik dengan suatu tehnik (proses) dari mulai penggambaran motif hingga pelodoran. Salah satu ciri khas batik adalah cara penggambaran motif pada kain yang menggunakan proses pemalaman, yaitu menggoreskan malam (lilin) yang ditempatkan pada wadah yang bernama canting dan cap. Menurut KRT.DR. HC. Kalinggo Hanggopuro (2002, 1-2) dalam buku Bathik sebagai Busana Tatanan dan Tuntunan menuliskan bahwa, para penulis terdahulu menggunakan istilah batik yang sebenarnya tidak ditulis dengan kata “Batik” akan tetapi seharusnya “Bathik”. Hal ini mengacu pada huruf Jawa “tha” bukan “ta” dan pemakaiaan bathik sebagai rangkaian dari titik adalah kurang tepat atau dikatakan salah.
Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan Malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok Semasa Dinasti T’ang (618-907) serta di India Dan Jepang Semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba Di Nigeria, Serta Suku Soninke Dan Wolof Di Senegal.
Sedangkan di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer pada akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Hingga abad XX seluruh batik yang ditemukan adalah batik tulis. Batik cap sendiri baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.
Walaupun kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7.
Di sisi lain, J.L.A. Brandes yang merupakan arkeolog Belanda dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik.
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Ia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.
Salah satu bukti keberadaan batik di Pulau Jawa adalah ditemukannya arca Prajnaparamitha, dewi kebijaksanaan Buddhis yang berasal dari abad ketiga belas. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola
batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa pembuatan pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah
dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Asal –usul batik pun dapat ditelusuri dari cerita rakyat. Legenda dalam literatur
Melayu
abad ke-17,
Sulalatus Salatin
menceritakan
Laksamana Hang Nadim
yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri
kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.
Oleh beberapa penafsir,kain serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdan dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle Di Paris
pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.
Demikianlah sekelumit penelusuran saya dalam Menyambut Asian Para Games 2018 dengan Batik. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi pembaca semua. Mari kita pelihara tradisi batik sebagai salah satu bagian dari kekayaan budaya warisan leluhur bangsa Indonesia yang membanggakan. Sampai jumpa di tulisan saya yang lain. Salam Chrysanova’s Blog.

Referensi :

 Batik, Wikipedia Bahasa Indonesia
 Batik Khusus Asian Para Games – Suaramerdeka.com Cyber News
 , suaramerdeka.com/index.php/news/baca/125622/batik-khusus-asian-para-gamess
 Desain Obor Asian Para Games 2018 Berhias Ornamen Batik – travel Tempo.co
 , travel.tempo.co/read/1123837/desain-obor-asian-para-games-2018-berhias-ornamen-batik
 Indahnya Batik Asian Para Games Kreasi para Penyandang Difabel Blora – NET JATENG – YouTube, youtube.com/watch?v=QTydUOMJSDY Pebatik Difabel Ciptakan Motif Asian Para Games – Kompas TV
 , kompas.tv/content/article/32558/video/berita-kompas-tv/pebatik-difabel-ciptakan-motif-asian-para-gamess
 Yuk Kenali Batik Parang! Asal-Usul, Ragam Motif, & Pembuatannya
 qlapa.com/blog/batik-parang-ragam-jenis-asal-usul