Category Archives: Uncategorized

Berkenalan dengan Momo, Maskot Asian Para Games 2018

Pada bulan Agustus 2018 ini seluruh bangsa di benua Asia larut dalam sukacita pesta olahraga bangsa-bangsa Asia. Aneka cabang olahraga dipertandingkan dalam gelaran akbar yang diikuti oleh 40 negara ini. Namun, ada satu hal yang terasa bagi kita para difabel. Semua cabang olahraga di Asian Games menggunakan standar yang berbeda dengan olahraga yang biasa dilakukan oleh kaum difabel sehingga praktis para peserta Asian Games tidak ada yang berasal dari kalangan difabel.
Namun, jangan sedih dulu. Para atlet difabel di Asia juga memiliki event olahraga tersendiri, yaitu Asian Para Games. Asian Para Games yang merupakan pesta olahraga para atlet difabel Asia ini akan diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2018 ini, yaitu pada tanggal 6 hingga 13 Oktober 2018. Berbeda dengan Asian Games yang diselenggarakan di Indonesia untuk kedua kalinya, pada tahun ini Indonesia baru pertama kali menjadi tuan rumah Asian Para Games. Tahun 2018 merupakan tahun ketiga acara Asian Para Games diadakan. Setelah sebelumnya Korea Selatan yang menjadi tuan rumah di Asian Para Games 2014, kini Indonesia berkesempatan untuk menjamu para atlet di Asian Para Games 2018.
Satu hal yang sangat menarik dan pasti ada di dalam setiap event pesta olahraga sekelas Asian Para Games ini adalah maskot. Jika Asian Games 2018 terkenal dengan ketiga maskotnya yang bernama Bhin Bhin, Kaka, dan Atung, lalu bagaimana dengan Asian Para Games?
Event akbar Asia ini juga memiliki maskot yang tak kalah menariknya dengan Asian Games. Maskot yang terpampang di acara 2nd Journalist Games di kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga ini diberi nama Momo. Maskot ini berupa seekor elang bondol yang mengenakan ikat pinggang khas Betawi sesuai dengan daerah asal hewan ini. Nama Momo sendiri merupakan kependekan dari Motivation and Mobility yang berarti motivasi dan mobilitas. Nama ini tidak sembarangan dipilih. Menurut Raja Sapta Oktohari Yang merupakan ketua Inapgoc atau Indonesia Asian Para Games Organizing Committee, motivasi diharapkan mampu menggerakkan para atlet Asian Para Games 2018 mendatang untuk mencapai tujuan, yaitu menjadi juara. Sedangkan mobilitas atau pergerakan berarti para atlet tersebut melakukan pergerakan untuk mencapai tujuan.
Sedangkan simbol elang bondol sendiri dipilih karena elang ini adalah satwa endemik dari kota tempat diselenggarakannya event ini, yaitu Jakarta. Selain itu, maskot elang bondol juga dipilih untuk menyesuaikan dengan maskot Asian Games yang berupa satwa-satwa khas Indonesia.
Momo adalah nama baru yang diberikan untuk maskot ini, yang sebelumnya bernama Ulung. Ulung diperkenalkan dalam kegiatan penghitungan mundur di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat 6 Oktober 2017. Nama Ulung sendiri bermakna pengalaman, mahir, terbaik, dan pemimpin. Ulung juga merupakan singkatan dari Ultimate, Undispute, dan Nations Globally, yang berarti bangsa-bangsa unggul yang tidak terkalahkan secara global
Filosofi pemilihan elang bondol sebagai maskot Asian Para Games 2018, menurut Okto, karena elang bondol melambangkan keperkasaan, keberanian, umur panjang,
dan ketegaran menghadapi tantangan zaman yang penuh persaingan seperti Kota Jakarta. Singkatnya, simbol ‘Elang Bondol’ ini mempunyai makna bahwa kita harus
selalu bergerak maju dan bisa beradaptasi dengan dunia dan waktu yang terus berubah.
Seperti halnya filosofinya, penampilan dari maskot Asian Para Games dari Indonesia ini pun tidak kalah mengesankan. Sebagai seekor elang bondol, Momo memiliki mata yang tajam, seolah menggambarkan tekad kuat yang dimilikinya. Selain itu, bulu berwarna putih tampak membalut kepala hingga dada Momo, sedangkan paruhnya berwarna kuning. Bagian tubuh lainnya seperti perut dan sayap sosok yang gagah ini berwarna abu-abu keunguan yang semakin menambah kehebatan sosok ini.
Penampilan Momo sendiri akan disesuaikan untuk setiap cabang olahraga yang dipertandingkan. Menurut ketua Inapgoc yang akrab dipanggil Okto, pada cabang bola basket Momo akan digambarkan duduk di kursi roda sambil bermain bola basket. Demikian pula dengan cabang olahraga lainnya, sosok Momo ini juga akan disesuaikan.
Tidak hanya maskot, ada juga logo yang menjadi identitas dari event olahraga ini. Okto juga menjelaskan logo Asian Para Games 2018 yang berbentuk lingkaran melambangkan keseimbangan yang terbentuk dari keberagaman bangsa-bangsa di Asia.
Bentuk siluet di tengah logo, lanjut Okto, merupakan gambaran orang yang sedang bergerak sebagaimana gerakan atlet-atlet yang akan bertanding dalam Asian Para Games 2018. Dijelaskan pula bahwa desain logo Asian Para Games ini dibuat mirip dengan logo Asian Games. Tujuannya, agar masyarakat yang melihatnya tahu bahwa event ini adalah event olahraga terbesar di Asia.
Demikianlah sekelumit perkenalan singkat kita dengan logo dan maskot yang merupakan identitas dari event olahraga para atlet difabel Asia atau Asian Para Games 2018. Semoga filosofi dari sosok Momo, sang maskot Asian Para Games ini dapat memotivasi para atlet yang berlaga di ajang ini untuk mempersembahkan kemampuan terbaiknya demi membela bangsa dan negara. Sebagai penyandang disabilitas, kita juga dapat mengharumkan nama bangsa melalui prestasi. Maju terus penyandang disabilitas Indonesia. (cpd)

Referensi :
 Indonesia 2018 Asian Para Games , Bahaso.com
 Maskot Asian Para Games Bernama Ulung, Metrotvnews.com
 Momo, Nama Baru Maskot Asian Paragames, Bola.com

Kontingen Garuda, Pasukan Penjaga Perdamaian Kebanggaan Indonesia

Kontingen Garuda disingkat KONGA atau Pasukan Garuda adalah pasukan Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di negara lain. Indonesia sudah mulai turut serta mengirim pasukannya sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB sejak 1957. Sejak saat itu, sudah lebih dari dua puluh lima kali Indonesia turut berpartisipasi aktif dalam memelihara perdamaian dunia dengan mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ini ke daerah-daerah yang dilanda konflik di berbagai negara. Dalam rangka Hari Perdamaian Internasional ini Chrysanova’s Blog akan mengulas mengenai pasukan penjaga perdamaian dari Indonesia ini.
Peran Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia dilatarbelakangi oleh pernyataan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Ketika itu Mesir segera mengadakan sidang menteri luar negeri negara-negara Liga Arab. Pada 18 November 1946,
mereka menetapkan resolusi tentang pengakuan kemerdekaan RI sebagai negara merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan tersebut adalah suatu pengakuan de jure menurut hukum internasional.
Untuk menyampaikan pengakuan ini Sekretaris Jenderal Liga Arab ketika itu, Abdurrahman Azzam Pasya, mengutus Konsul Jenderal Mesir Di India, Mohammad Abdul Mun’im, untuk pergi ke Indonesia. Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh dengan rintangan, terutama dari pihak Belanda maka akhirnya ia sampai ke Ibu Kota RI waktu itu yaitu Yogyakarta, dan diterima secara kenegaraan oleh Presiden Soekarno Dan Bung Hatta Pada 15 Maret 1947. Ini pengakuan pertama atas kemerdekaan RI oleh negara asing.
Hubungan yang baik tersebut berlanjut dengan dibukanya Perwakilan RI di Mesir dengan menunjuk HM Rasyidi sebagi Charge d’Affairs atau “Kuasa Usaha”. Perwakilan tersebut merangkap sebagai misi diplomatik tetap untuk seluruh negara-negara Liga Arab. Hubungan yang akrab ini memberi arti pada perjuangan Indonesia sewaktu terjadi perdebatan di forum Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB yang membicarakan sengketa Indonesia-Belanda, para diplomat Arab dengan gigih mendukung Indonesia.
Presiden Sukarno membalas pembelaan negara-negara Arab di forum internasional dengan mengunjungi Mesir dan Arab Saudi pada Mei 1956 dan Irak pada April 1960. Pada 1956, ketika Majelis Umum PBB memutuskan untuk menarik mundur pasukan Inggris, Prancis Dan Israel dari wilayah Mesir, Indonesia mendukung keputusan itu dan untuk pertama kalinya mengirim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB ke Mesir yang dinamakan dengan Kontingen Garuda I atau KONGA I.
Kontingen ini dikirim untuk menjaga perdamaian di Mesir. Ketika itu presiden Mesir Gamal Abdul Nasser menasionalisasi Terusan Suez, akibatnya Inggris dan Prancis yang memiliki saham atas Terusan Suez menjadi marah dan mengirimkan pasukannya untuk menggempur Mesir. Serangan Inggris dan Prancis yang dibantu Israel terhadap Mesir sangat membahayakan perdamaian dunia sehingga PBB terpaksa turun tangan. Dalam Sidang Umum PBB Menteri Luar negeri Kanada Lester B.Perason mengusulkan agar dibentuk suatu pasukan PBB untuk memelihara perdamaian di Timur Tengah. Usul ini disetujui Sidang dan pada tanggal 5 November 1956 Sekjen PBB membentuk sebuah komando PBB dengan nama United Nations Emergency Forces (UNEF). Pada tanggal 8 November Indonesia menyatakan kesediannya untuk turut serta menyumbangkan pasukan dalam UNEF.
Pada tanggal 28 Desember 1956, dibentuk sebuah pasukan yang berkekuatan satu detasemen (550 orang) yang terdiri dari gabungan personel dari Resimen Infanteri-15 Tentara Territorium (TT) IV/Diponegoro, serta 1 kompi dari Resimen Infanteri-18 TT V/Brawijaya di Malang. Kontingen ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Infanteri Hartoyo yang kemudian digantikan oleh Letnan Kolonel Infanteri Suadi Suromihardjo, sedangkan wakilnya Mayor Infanteri Soediono Suryantoro.
Kontingen Indonesia berangkat tanggal 8 Januari 1957 dengan pesawat C-124 Globe Master dari Angkatan Udara Amerika Serikat menuju Beirut, ibukota Libanon. Dari Beirut pasukan dibagi dua, sebagian menuju ke Abu Suweir dan sebagian ke Al Sandhira. Selanjutnya pasukan di El Sandhira dipindahkan ke Gaza, daerah perbatasan Mesir dan Israel, sedangkan kelompok Komando berada di Rafah.
Kontingen ini mengakhiri masa tugasnya pada tanggal 29 September 1957. Keberhasilan pasukan ini membuat Indonesia terus mendapat kepercayaan dari PBB untuk membantu memelihara perdamaian di berbagai belahan dunia.
Untuk kedua kalinya Indonesia mengirimkan kontingen untuk diperbantukan kepada United Nations Operations for the Congo (UNOC) untuk konflik di Kongo. Pasukan ini disebut “Garuda II” yang terdiri atas Batalyon 330/Siliwangi, Detasemen Polisi Militer, dan Peleton KKO Angkatan Laut. Pasukan Garuda II berangkat dari Jakarta tanggal 10 September 1960 dan menyelesaikan tugasnya pada bulan Mei 1961. Tugas pasukan Garuda II di Kongo kemudian digantikan oleh pasukan Garuda III yang bertugas dari bulan Desember 1962 sampai bulan Agustus 1964 di bawah pimpinan Brigjen Kemal.
Ketika meletus perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan PBB membentuk International Commission of Control and Supervission (ICCS). Pada peristiwa tersebut Indonesia kembali mengutus Pasukan Garuda IV di bawah pimpinan Brigjen TNI Wivono. Pasukan yang berkekuatan 290 prajurit ini bertugas di Vietnam dari bulan Januari 1973, untuk kemudian diganti dengan Pasukan Garuda V, dan kemudian pasukan Garuda VII. Namun, pada tahun 1975 Pasukan Garuda VII ditarik dari Vietnam karena seluruh Vietnam jatuh ketangan Vietcong (Vietnam Utara yang komunis).
Pada tahun 1973, ketika pecah perang Arab-Israel keempat, UNEF diaktifkan lagi dengan kurang lebih 7000 anggota yang terdiri atas kesatuan-kesatuan Australia, Finlandia, Swedia, Irlandia, Peru, Panam, Senegal, Ghana dan Indonesia. Kontingen Indonesia yang dipimpin Kolonel Rudini dan wakilnya Mayor Basofi Sudirman semula berfungsi sebagai pasukan pengamanan dalam perundingan antara Mesir dan Israel. Tugas pasukan Garuda VI berakhir 23 September 1974 untuk digantikan dengan Pasukan Garuda VIII yang bertugas hingga tanggal 17 Februari 1975.
Sejak tahun 1975 hingga kini Indonesia semakin berperan aktif dalam memelihara perdamaian dunia, ditandai dengan didirikannya Indonesian Peace Security Centre (IPSC/Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia) pada tahun 2012, yang di dalamnya terdapat unit yang mengelola kesiapan pasukan yang akan dikirim untuk menjaga perdamaian dunia (Standby Force).
Dan tahun ini Indonesia kembali memberangkatkan Kontingen Garuda untuk misi perdamaian di Republik Demokratik Kongo dan Libanon. Kontingen yang dikenal dengan nama Satgas Rapidly Deployable Battalion (RDB) Kontingen Garuda XXXIX-A/Monusco ini dilepas oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 31 Agustus 2018. Sebelumnya, kontingen Garuda United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) juga dikirim ke Lebanon pada tahun 2015. United Nations Interim Force in Lebanon (Unifil) merupakan organisasi yang didirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk misi perdamaian di Lebanon.
Bagi Indonesia, keikutsertaan kontingen Garuda dalam memelihara perdamaian dunia adalah salah satu wujud pelaksanaan amanat Pembukaan UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selain itu politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif pun mengisyaratkan hal senada, dimana negara kita tidak terikat pada salah satu pihak dan juga aktif memelihara perdamaian dunia.
Misi perdamaian kontingen Garuda pun dihargai oleh banyak pihak. Berbagai penghargaan telah diberikan atas profesionalisme pasukan ini. Di antara lain United Nation (UN) Medal dari PBB. Dalam misinya di Lebanon kontingen Garuda berhasil meredam ketegangan antara pasukan LAF (Lebanese Armed Force) dan IDF (Israel Defence Force) yang terjadi di bulan November 2013. Kontingen ini mendapat penghargaan langsung dari Force Commander Mayjen Paolo Serra yang dinilai telah berhasil mendapat mandat United Nations Security Council resolution (UNSCR) sesuai STIR (Standardised Tantical Incident Reaction). Penghargaan dari PBB itu tentu sangat membanggakan karena sekaligus juga merupakan pengakuan dari bangsa-bangsa di dunia terhadap pasukan ini. Kemudian, Satgas Kizi TNI yang tengah bertugas di Afrika menerima penghargaan berupa Medali United Nation (UN Medal Parade) dari Kontingen Serbia. Penghargaan terhadap Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-B/Minusca (Multi Dimensional Integrated Stabilization Mission in The Central African Republic) itu diberikan atas kerja sama dan bantuan yang tergabung dalam misi UN Minusca.
Demikianlah sekelumit sejarah mengenai Kontingen Garuda, pasukan pemelihara perdamaian kebanggaan Indonesia yang aktif bersama PBB untuk menjaga perdamaian di berbagai penjuru dunia. Masih banyak data tentang kontingen Garuda, namun ruang yang terdapat dalam tulisan ini tidak mencukupi. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi pembaca semua. Selamat Hari Perdamaian Internasional.

Referensi :
Konga TNI Menerima Penghargaan UN Medal Parade dari Kontingen Serbia – JakartaGreater
, jakartagreater.com/konga-tni-menerima-penghargaan-un-medal-parade-dari-kontingen-serbia/
 Kontingen Garuda, Wikipedia Bahasa Indonesia
 Lepas Pasukan Garuda Penjaga Perdamaian, Presiden Jokowi: Jaga Nama Baik Bangsa |, , wartaindonesia.co.id/lepas-pasukan-garuda-penjaga-perdamaian-presiden-jokowi-jaga-nama-baik-bangsa/s
 Misi Pemeliharaan Perdamaian Garuda | Mikirbae, , mikirbae.com/2016/06/misi-pemeliharaan-perdamaian-garuda.html
Pengiriman Pasukan Garuda – Guru Sejarah, gurusejarah.com/2015/01/pengiriman-pasukan-garuda.html
 Raih UN Medal, Kontingen Garuda Diakui PBB Sebagai Penjaga Perdamaian, news.detik.com/berita/2445367/-raih-un-medal-kontingen-garuda-diakui-pbb-sebagai-penjaga-perdamaian
 Tugas Kontingen Garuda Unifil 2016 di Lebanon Berakhir – Dunia Tempo.co, dunia.tempo.co/read/828755/tugas-kontingen-garuda-unifil-2016-di-lebanon-berakhirs

Pencak Silat, Bela Diri Tradisional Asli Indonesia

Siapa yang tidak mengenal pencak silat? Olahraga sekaligus seni bela diri tradisional Indonesia ini telah berkembang selama berabad-abad di negeri kita tercinta ini. Perguruan-perguruan silat telah lama berdiri di bumi Nusantara, bahkan seni beladiri ini memegang peran penting dalam perlawanan terhadap penjajah. Di sekolah-sekolah pun pencak silat telah menjadi bagian dari pendidikan kesehatan jasmani sebagaimana pengalaman saya ketika duduk di bangku sekolah dasar.
. Bahkan, perkembangannya tidak terbatas di Indonesia saja. Pencak silat pun telah dikenal di dunia internasional, bahkan di ajang Asian Games yang baru saja berlalu cabang ini mengukir prestasi yang luar biasa, yaitu empat belas medali emas dan satu perunggu. Prestasi ini tentu menjadi hal yang sangat membanggakan, mengingat pencak silat baru pertama kali dipertandingkan dalam ajang Asian Games. Berikut ini Chrysanova’s Blog akan mengajak pembaca semua untuk lebih mengenal pencak silat, seni beladiri asli Indonesia.
Istilah silat dikenal secara luas di Asia Tenggara, akan tetapi khusus di Indonesia istilah yang digunakan adalah pencak silat. Istilah ini digunakan sejak 1948 untuk mempersatukan berbagai aliran seni bela diri tradisional yang berkembang di Indonesia.
Nama “pencak” digunakan di Jawa, sedangkan “silat” digunakan di Sumatera, Semenanjung Malaya dan Kalimantan. Dalam perkembangannya kini istilah “pencak” lebih mengedepankan unsur seni dan penampilan keindahan gerakan, sedangkan “silat” adalah inti ajaran bela diri dalam pertarungan.
Bela diri yang berkembang di Nusantara didasarkan pada upaya pertahanan suku menghadapi musuh, seperti tari perang Nias.
Nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki cara pembelaan diri yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupannya atau kelompoknya dari tantangan alam.
Mereka menciptakan bela diri dengan menirukan gerakan binatang yang ada di alam sekitarnya, seperti gerakan Kera, harimau, ular, atau burung elang.
Asal mula ilmu bela diri di nusantara ini kemungkinan juga berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak, misalnya seperti dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.
Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat ditentukan secara pasti. Kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya Dan Majapahit disebutkan memiliki pendekar-pendekar besar yang menguasai ilmu bela diri dan dapat menghimpun prajurit-prajurit yang kemahirannya dalam pembelaan diri dapat diandalkan.
Dalam tulisan Hutomo Dwi, “Asal-usul Pencak Silat, Bela Diri Indonesia yang Mendunia”, disebutkan, istilah “silat” sudah dikenal lama oleh masyarakat Asia Tenggara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura,
Thailand, dan Filipina.
Peneliti silat Donald F. Draeger berpendapat bahwa bukti adanya seni bela diri bisa dilihat dari berbagai artefak senjata yang ditemukan dari masa klasik (Hindu-Budha) serta pada pahatan relief-relief yang berisikan sikap-sikap kuda-kuda silat di candi Prambanan dan Borobudur.
Dalam bukunya, Draeger menuliskan bahwa senjata dan seni beladiri silat adalah tak terpisahkan, bukan hanya dalam olah tubuh saja, melainkan juga pada hubungan spiritual yang terkait erat dengan kebudayaan Indonesia. Sementara itu Sheikh Shamsuddin (2005) berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu bela diri dari Cina Dan India dalam silat. Hal ini karena sejak awal kebudayaan Melayu telah mendapat pengaruh dari kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, dan mancanegara lainnya. Pencak silat telah dikenal oleh sebagian besar masyarakat rumpun Melayu dalam berbagai nama.
Karena itulah pencak silat bukan hal yang asing lagi bagi masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Sebagai contohnya , di semenanjung Malaysia dan Singapura silat lebih dikenal dengan nama alirannya yaitu gayong dan cekak.
Di Thailand, pencak silat dikenal dengan nama bersilat, dan di Filipina selatan dikenal dengan nama pasilat.
Dari namanya, dapat diketahui bahwa istilah “silat” paling banyak menyebar luas, sehingga diduga bahwa bela diri ini menyebar dari Sumatera ke berbagai kawasan di Asia Tenggara.
Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid, sehingga catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Sejarah silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Legenda Minangkabau, silat ( bahasa Minangkabau : silek) diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan, Tanah Datar di kaki Gunung Marapi pada abad ke-11.
Kemudian silek dibawa dan dikembangkan oleh para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara.
Demikian pula cerita rakyat mengenai asal mula silat aliran Cimande, yang mengisahkan seorang perempuan yang mencontoh gerakan pertarungan antara harimau dan monyet. Setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan (pendekar) yang dibanggakan, misalnya Prabu Siliwangi sebagai tokoh pencak silat Sunda Pajajaran, Hang Tuah sang panglima Malaka, Gajah Mada yang merupakan mahapatih Kerajaan Majapahit Dan Si Pitung dari Betawi.
Perkembangan silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum penyebar agama Islam pada abad ke-14 di nusantara. Kala itu pencak silat diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau atau pesantren. Silat menjadi bagian dari latihan spiritual.
Dalam budaya beberapa suku bangsa di Indonesia, pencak silat merupakan bagian tak terpisahkan dalam upacara adatnya. Misalnya kesenian tari Randai yang tak lain adalah gerakan silek Minangkabau kerap ditampilkan dalam berbagai perhelatan dan acara adat Minangkabau. Dalam prosesi pernikahan adat Betawi juga terdapat tradisi “palang pintu”, yaitu peragaan silat Betawi yang dikemas dalam sebuah sandiwara kecil. Acara ini biasanya digelar sebelum akad nikah, yaitu sebuah drama kecil yang menceritakan rombongan pengantin pria yang dalam perjalanannya menuju rumah pengantin wanita dihadang oleh jawara (pendekar) kampung setempat yang dikisahkan juga menaruh hati kepada pengantin wanita. Maka terjadilah pertarungan silat di tengah jalan antara jawara-jawara penghadang dengan pendekar-pendekar pengiring pengantin pria yang tentu saja dimenangkan oleh para pengawal pengantin pria. Silat lalu berkembang dari ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah asing.
Dalam sejarah perjuangan melawan Penjajah Belanda, tercatat para pendekar yang mengangkat senjata, seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Imam Bonjol, serta para pendekar wanita, seperti Sabai Nan Aluih, Cut Nyak Dhien, Dan Cut Nyak Meutia.
Silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu
dalam pengertian yang luas, yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera ,Semenanjung Malaka, dan berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan bahasa Melayu di berbagai daerah di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau lainnya yang juga mengembangkan beladiri ini.
Menyadari pentingnya mengembangkan pencak silat, maka dirasa perlu adanya organisasi pencak silat yang bersifat nasional, yang dapat pula mengikat aliran-aliran pencak silat di seluruh Indonesia. Pada tanggal 18 Mei 1948, terbentuklah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)
Kini IPSI tercatat sebagai organisasi silat nasional tertua di dunia. Pada 11 Maret 1980, Persatuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) didirikan atas prakarsa Eddie M. Nalapraya (Indonesia), yang saat itu menjabat Sebagai Ketua IPSI.
Silat kini telah secara resmi masuk sebagai cabang olahraga dalam pertandingan internasional seperti SEA Games, Kejuaraan Dunia Pencak Silat, dan yang terbaru adalah di Asian Games.
Seperti juga produk-produk budaya asli Indonesia lainnya, pencak silat yang merupakan salah satu cerminan dari keanekaragaman budaya kita yang adiluhung sarat akan makna yang penting untuk dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan kita. Mari cintai dan pelajari seni beladiri yang sekaligus merupakan olahraga ini agar tidak punah ditelan zaman. Sekian dulu tulisan saya kali ini. Semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi pembaca semua. Salam Chrysanova’s Blog.

Referensi :

 Catat Sejarah, Pencak Silat Borong Medali Emas Asian Games | LumenNews.ID
 Pencak Silat, Tambang Emas Asian Games 2018, Kompas.com
 Pencak silat , Wikipedia bahasa Indonesia

Bhin Bhin, Atung, dan Kaka, Trio Maskot Asian Games 2018

Pada 18 Agustus 2018 Asian Games resmi dibuka dengan upacara pembukaan yang megah. Berlokasi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, perhelatan akbar ini menalibatkan putra-putri terbaik bangsa Indonesia sebagai pengisi acara. Sejak jauh-jauh hari persiapan luar biasa sudah dilakukan untuk menyambut pesta olahraga bangsa-bangsa Asia ini. Media-media massa gencar memberitakan persiapan Asian Games. Bahkan, di berbagai penjuru dekorasi Asian Games pun sudah terpasang. Singkatnya, hingar bingar Asian Games telah melanda daerah-daerah di Indonesia, bahkan di Asia.
Ini tidak mengherankan karena Asian Games yang merupakan pesta olahraga negara-negara Asia kini diselenggarakan di negeri kita tercinta ini. Ini merupakan kedua kalinya Indonesia menjadi tuan rumah bagi event olahraga yang digelar empat tahun sekali tersebut. Kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah adalah lima puluh enam tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1962.
Tentu saja, event yang sudah lama dinanti oleh seluruh masyarakat Indonesia dan juga Asia ini disambut dengan meriah. Aneka persiapan dilakukan, terutama oleh Indonesia sebagai tuan rumah. Salah satunya adalah mempersiapkan maskot dan logo yang akan menjadi identitas Asian Games 2018 ini. Dalam event sekelas Asian Games, logo dan maskot adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Mereka harus merepresentasikan negara dan juga berfungsi seperti duta bagi event akbar ini.
Selain menarik, maskot yang terpilih melalui sayembara dari Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif ini juga memiliki makna filosofis yang sesuai dengan jiwa Asian Games. Penasaran? Mari ikuti penelusuran saya berikut ini.
Sebagai Maskot, Indonesia menyiapkan tiga satwa asli Indonesia yaitu burung Cendrawasih yang kemudian diberi nama Bhin Bhin, yang kedua badak bercula satu bernama Kaka, dan yang ketiga Rusa Bawean yang diberi nama Atung. Ketiga maskot ini adalah hasil rancangan Jefferson dan rekan-rekannya dari Feat Studio. Pemilihan ketiga maskot ini juga tidak terlepas dari makna filosofisnya. Ketiga maskot ini adalah hewan endemik khas Indonesia yang mewakili keragaman dan kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Burung Cendrawasih
(Paradisaea Apoda)mewakili Indonesia bagian timur, Sementara Rusa Bawean (Hyelaphus Kuhlii) mewakili Indonesia bagian tengah, dan yang terakhir Badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) mewakili Indonesia bagian barat. Maskot ini didesain dengan menonjolkan kearifan model budaya lokal yang unik, walaupun begitu maskot ini tetap terlihat modern dan kekinian.
Penonjolan kearifan lokal tersebut di antara lain terlihat dari pakaian yang dikenakan masing-masing maskot ini. Bhin Bhin sang cenderawasih tampil dengan busana khas daerah asalnya, yaitu rompi dengan motif Asmat dari Papua. Bhin Bhin sendiri merepresentasikan strategi dengan harapan para atlet khususnya Indonesia dapat memiliki strategi yang baik.
Maskot berikutnya adalah Atung, yaitu seekor rusa dari Pulau Bawean yang mengenakan sarung dengan motif tumpal dari Jakarta. Atung menjadi maskot yang merepresentasikan kecepatan, karena rusa sendiri dikenal akan kecepatan berlarinya.
Maskot yang terbesar di antara ketiga maskot ini adalah Kaka sang badak bercula satu. Seperti kedua rekannya, yaitu Bhin Bhin dan Atung, Kaka juga berpenampilan khas Indonesia, yaitu dengan mengenakan pakaian tradisional bermotif bunga khas Palembang. Karena tubuhnya yang besar dan kuat, di sini Kaka merepresentasikan kekuatan.
Penetapan ketiga maskot ini sendiri telah melalui perjalanan panjang. Mereka diperoleh dari hasil sayembara yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga yang bekerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif. Sayembara ini diselenggarakan setelah maskot yang diperkenalkan pada tahun 2015 menuai banyak protes dan kritikan dari berbagai kalangan. Ada yang mengatakan bahwa maskot bernama Drawa yang merupakan seekor burung cenderawasih yang memakai pakaian pencak silat itu terlihat kuno dan kurang hidup bila dibandingkan dengan maskot-maskot Asian Games sebelumnya. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa sosok Drawa kurang mencerminkan keindahan seekor cenderawasih.
Tidak sampai di situ saja makna dari ketiga maskot Asian Games 2018 ini. Nama mereka pun memiliki nuansa Indonesia yang kental, yaitu dari semboyan yang dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia. Apa lagi kalau bukan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua.
Selain maskot, hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah logo. Logo yang digunakan untuk event bergengsi ini dipilih sendiri oleh Presiden Joko Widodo. , Logo ini merupakan sketsa tampak atas dari Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dengan matahari di bagian tengahnya. Gambar Matahari tersebut diasosiasikan sebagai lambang sumber energi utama yang kemudian menyebar melalui delapan arah ke seluruh Asia sekaligus dunia.
Desain logo ini juga menggambarkan harapan agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah yang sukses dan dipandang kemampuannya dengan penyelenggaraan Asian Games 2018 ini.
Demikianlah perkenalan singkat kita dengan logo dan maskot Asian Games 2018. Semoga Indonesia sebagai tuan rumah event akbar ini dapat meraih hasil terbaik. Ayo maju Indonesiaku.(cpd)

Referensi :
 Ini dia Fakta menarik Tentang Logo dan Maskot Asian Games 2018 Indonesia, Was-was.com
 Lucu Imut-imut, Inilah 3 Maskot Resmi Asian Games 2018
, Idntimes.com

Sang Saka Merah Putih, Jiwa dan Raga Bangsa Kita

Sejak tahun 1945 tanggal 17 Agustus selalu diperingati sebagai hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tanggal ini salah satu kegiatan yang selalu dilaksanakan di Istana Merdeka adalah upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih yang dihadiri oleh kepala negara, para pejabat tinggi negara, sampai para perwakilan negara sahabat. Untuk memperingati peristiwa terpenting dalam sejarah bangsa Indonesia ini mari ikuti penelusuran Chrysanova’s Blog tentang salah satu identitas nasional kita, yaitu Sang Saka Merah Putih.

Sang Saka Merah Putih yang juga disebut sebagai Sang Dwiwarna ini merupakan julukan kehormatan terhadap bendera Merah Putih negara Indonesia. Pada mulanya sebutan ini ditujukan untuk Bendera Pusaka, yaitu bendera Merah Putih yang dikibarkan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945  di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat

Tetapi selanjutnya dalam penggunaan umum, sebutan Sang Saka Merah Putih ditujukan kepada setiap bendera Merah Putih yang dikibarkan dalam setiap upacara bendera.

Bendera pusaka dibuat pada tahun 1944oleh Ibu Fatmawati yang merupakan istri Presiden Soekarno. , sang proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia. Bahan bendera ini adalah katun jepang yang diperoleh dari seorang Jepang. .  Namun, adapula yang menyebutkan bahwa bendera ini menggunakan kain wol dari London yang pada saat itu biasa digunakan khusus untuk membuat bendera-bendera negara di dunia. Sedangkan, ukuran yang digunakan adalah  274 x 196 cm. Sejak saat itu, bendera tersebut selalu dikibarkan pada setiap hari ulang tahun kemerdekaan RI.

Namun, sejak tahun 1969, bendera itu tidak pernah dikibarkan lagi. Upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih yang dilaksanakan di Istana Merdeka pun kini menggunakan duplikatnya yang terbuat dari sutra. Adapun bendera pusaka yang asli sampai saat ini disimpan di Istana Merdeka.

Usianya yang tua telah menyebabkan kondisi bendera itu tidak lagi seperti saat dijahit oleh Ibu Fatmawati. Bendera bersejarah itu sempat sobek di kedua ujungnya, ujung yang berwarna putih sobek sebesar 12 X 42 cm, sedangkan Ujung berwarna merah sobek sebesar 15x 47 cm. Selain itu ada pula lubang-lubang kecil karena jamur dan gigitan serangga, noda berwarna kecoklatan, hitam, dan putih. Kondisinya yang telah tua dan terlalu lama disimpan dalam posisi terlipat pun memberi andil pada kerusakan bendera pusaka.  Terdapat beberapa robekan pada lipatan, dan warna di sekitar lipatannya pun memudar.

Bendera merah putih ini memiliki makna  filosofis, dimana warna merah melambangkan keberanian, sedangkan putih melambangkan kesucian.

Selain itu, Bung Karno dalam pidatonya pada tanggal 24 September 1955 juga mengumpamakan warna merah sebagai darah manusia dan hewan, sedangkan warna putih adalah darah tumbuhan atau yang dapat dimaknai sebagai getah. Bahkan, warna merah juga dapat dikatakan melambangkan raga manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan membentuk suatu keutuhan jiwa dan raga manusia untuk membangun Indonesia.

Makna bendera merah putih juga erat dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dapat dikatakan, sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu warna merah putih telah dianggap sebagai simbol yang agung.

Pidato Bung Karno pada tanggal 24 September 1955 yang berjudul Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila pun menegaskan hal tersebut, yaitu bahwa warna merah dan putih telah disakralkan oleh masyarakat Nusantara jauh sebelum datangnya agama. Ketika itu, masyarakat memuja matahari dan bulan yang dianggap sebagai pemberi kehidupan. Matahari dilambangkan dengan warna merah, sedangkan bulan berwarna putih.

Kemudian, dalam Serat Pararaton atau yang dalam bahasa Kawi berarti Kitab Raja-Raja disebutkan bahwa pasukan dari Gelang-Gelang yang memberontak kepada Singasari pada tahun 1293 menggunakan panji-panji berwarna merah dan putih.

Pada perkembangan selanjutnya, kedua warna ini juga digunakan dalam pataka atau panji Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Tidak hanya itu, penggunaan warna merah dan putih sebagai warna yang sakral tidak hanya berlaku secara lokal. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa kedua warna ini berasal dari mitologi bangsa Austronesia, yaitu warna merah digunakan untuk melambangkan tanah atau ibu bumi, sedangkan putih adalah lambang langit atau bapak langit. Dengan demikian, maka warna merah dan putih kerap muncul dalam lambang-lambang Austronesia — dari Tahiti, Indonesia, sampai Madagaskar. Merah dan putih selanjutnya digunakan untuk melambangkan dualisme alam yang saling berpasangan.

Sebelum masa Majapahit pun warna merah dan putih telah digunakan sebagai panji kerajaan, mungkin sejak masa Kerajaan Kediri. Ini bukan hal yang tidak mungkin karena pewarnaan merah dan putih sudah dapat dilakukan dalam teknik produksi tekstil di Indonesia purba. Warna putih adalah warna alami kapuk atau kapas katun yang ditenun menjadi selembar kain, sementara zat pewarna merah alami diperoleh dari daun pohon jati, bunga belimbing wuluh  (Averrhoa bilimbi), atau dari kulit buah manggis.

Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya, bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII.

Tidak hanya dari kawasan Indonesia bagian barat saja. Warna merah dan putih pun lekat dalam sejarah kerajaan dari Pulau Sulawesi. Di zaman kerajaan Bugis Bone, Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone. Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang.

Sedangkan di pulau dewata Bali bendera merah putih juga lekat dalam sejarah. panji kerajaan Badung yang berpusat di Puri Pamecutan juga mengandung warna merah dan putih, dimana panji mereka berwarna merah, putih, dan hitam yang mungkin juga berasal dari warna Majapahit.

Tidak sampai di situ saja latar belakang penggunaan bendera merah putih. Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran Diponegoro  memakai panji-panji berwarna merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda. Pada perkembangan selanjutnya, warna-warna tersebut juga dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan kaum nasionalis di awal abad 20 sebagai ekspresi nasionalisme terhadap Belanda.

Bendera merah putih digunakan untuk pertama kalinya di Jawa.  pada tahun 1928. Di bawah pemerintahan kolonialisme, bendera itu dilarang digunakan. Bendera ini resmi dijadikan sebagai bendera nasional Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu ketika kemerdekaan diumumkan dan resmi digunakan sejak saat itu pula.

Warna merah putih juga tidak hanya digunakan di daerah-daerah tersebut saja. Penggunaan warna ini bahkan meluas hingga pada para pejuang Muslim di Indonesia. Menurut seorang Guru Besar sejarah dari Universitas Padjajaran Bandung, Mansyur Suryanegara  semua pejuang Muslim  di Nusantara  menggunakan panji-panji merah dan putih dalam melakukan perlawanan, karena berdasarkan hadits Nabi Muhammad.

Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang-pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.

Hingga kini pun warna merah dan putih masih dipandang sebagai warna yang penting.  Warna merah mirip dengan warna gula merah atau gula aren, sedangkan putih adalah warna makanan pokok kita, yaitu nasi. Kedua bahan ini adalah bahan utama masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa.

Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat pun warna ini masih digunakan, antara lain dalam upacara selamatan kandungan yang berusia empat bulan berupa bubur yang diberi warna merah sebagian. Kedua warna ini digunakan karena Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah, yang ditanam di gua garba.

Lebih dari itu, menurut Bung Karno, dalam pidatonya di hadapan masyarakat Surabaya pada 24 September 1955, merah putih bukanlah buatan Republik Indonesia. Bukan pula buatan tokoh-tokoh di zaman pergerakan nasional. Bukan buatannya Bung Karno, bukan buatannya Bung Hatta. Enam ribu tahun sebelum Indonesia merdeka manusia yang hidup di tanah air Nusantara sudah memberi makna pada Merah Putih. Bangsa Indonesia sudah mengagungkan merah putih jauh sebelum agama-agama masuk, seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Kerajaan-kerajaan di Nusantara dari mulai Kediri, Singosari, Majapahit sampai Mataram menggunakan merah putih sebagai panji-panji.

Bung Karno kemudian berwasiat, “Aku minta kepadamu sekalian, janganlah memperdebatkan Merah Putih ini. Jangan ada satu kelompok yang mengusulkan warna lain sebagai bendera Republik Indonesia”.

Demikianlah sekelumit tulisan mengenai makna Sang Saka Merah Putih dan sejarahnya yang disadur dari berbagai sumber. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi pembaca. Mari tingkatkan kecintaan kita terhadap negeri dengan memberikan yang terbaik untuk kemajuan bangsa kita Indonesia. Selamat hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke-73.

 

Referensi :

  • Bendera Indonesia, Wikipedia Bahasa Indonesia
  • Bendera Rasulullah dalam Hadis Nabi dan Sejarah Islam, Islami.co
  • Makna Merah Putih Menurut Bung Karno, Kumparan.com
  • Sang Saka Merah Putih, Wikipedia Bahasa Indonesia

Tahu, Makanan Lembut Kaya Manfaat

Masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan tahu. Makanan bertekstur lembut dari bahan kedelai yang difermentasi ini dapat ditemukan dengan mudah di seluruh penjuru Nusantara, baik di pasar swalayan besar, pasar tradisional, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Olahannya pun beragam. Dalam khazanah seni kuliner Indonesia kita dapat menemukan aneka masakan tahu khas Indonesia, dari mulai yang paling sederhana seperti tahu goreng, pepes tahu, hingga yang kompleks seperti dipadukan dalam gado-gado, siomay, maupun aneka jenis masakan berkuah.

Begitu lekatnya tahu dalam keseharian masyarakat kita, sehingga tidak banyak orang yang menyadari bahwa tahu sebenarnya tidak berasal dari Indonesia, melainkan dari Tiongkok. Tahu diperkirakan mulai masuk ke Nusantara pada tahun 1293, yaitu pada saat pasukan dari dinasti Yuan atau  Mongol menyerang kerajaan Singasari. Pada saat itu, pasukan tersebut membawa perbekalan berupa kedelai yang selanjutnya diolah menjadi tahu. Dengan demikian, tradisi makan tahu sudah berusia lebih tua daripada tempe.

Dikutip dari Wikipedia, tahu adalah makanan yang dibuat dari endapan perasan biji kedelai  yang mengalami koagulasi.

Nama “tahu” merupakan serapan dari bahasa Hokkian  (tauhu) (Hanzi:

豆腐, hanyu pinyin:doufu), yang secara harfiah berarti “kedelai terfermentasi”. Di negeri asalnya, tahu telah dikenal sejak zaman dinasti Han  sekitar 2200 tahun lalu. Penemunya adalah Liu An yang merupakan seorang bangsawan, cucu dari Kaisar Han Gaozu, Liu Bang  yang mendirikan dinasti Han. Dari negeri Tirai Bambu tersebut Tahu secara umum dibawa para perantau Tiongkok ke seluruh penjuru dunia, sehingga menyebar ke Asia Timur  dan Asia Tenggara sebelum akhirnya ke seluruh dunia.

Tahu telah mengalami indigenisasi di Indonesia sehingga muncul berbagai varian tahu serta panganan berbahan tahu. Tampilan luar tahu ada yang berwarna putih maupun kuning. Karena populernya, tahu menjadi bagian tak terpisahkan dalam budaya makan berbagai tingkat sosial di Indonesia, bersama-sama dengan tempe.

Di Kediri  tahu kuning menjadi makanan khas. Tahu ini dikenal sebagai tahu takua. Tempat lain yang juga terasosiasi dengan tahu adalah Sumedang (tahu Sumedang). Tahu jenis ini biasa dijual dalam bentuk matang, yaitu berupa tahu goreng. Tahu Sumedang tidak sama dengan tahu pada umumnya, karena koagulan yang dipakai adalah sisa dari penggumpalan tahu, disebut larutan biang yang disimpan selama 2–3 hari, yang prosesnya menggunakan asam cuka. Selain bentuk dan rasanya yang sedikit berbeda, kemasan tahu Sumedang pun memiliki kekhasan.  Jika dibeli dalam jumlah banyak, umumnya menggunakan bongsang, anyaman bambu  yang dapat memuat 25–100 buah tahu goreng.

Sejarawan JJ Rizal mengungkapkan dalam website Historia bahwa pada abad ke-10 orang-orang Tionghoa telah menyajikan tahu di Nusantara, meskipun terbatas di kalangan elite. Sebenarnya awal mula  masuknya tahu di Nusantara tidak dapat diketahui dengan pasti, namun orang Kediri mengklaim sebagai kota pertama di Nusantara yang mengenal tahu, yang dibawa tentara Kubilai Khan pada tahun 1293.

Menurut Suryatini N. Ganie dalam Dapur Naga di Indonesia, di Kediri masih terdapat sebuah tempat bernama Jung Biru yang dulunya adalah tempat berlabuhnya jung-jung tentara Mongol. Armada tersebut mempunyai jung-jung khusus untuk mengurus makanan tentara, termasuk satu yang khusus untuk menyimpan kacang kedelai dan membuat tahu.

Kata tahu sendiri, menurut Hieronymus Budi Santoso, berasal dari bahasa Tionghoa, yakni: tao-hu atau teu-hu. Suku kata tao/teu berarti kacang kedelai, sedangkan hu berarti hancur menjadi bubur.

“Dengan demikian secara harfiah, tahu adalah makanan yang bahan bakunya kedelai yang dihancurkan menjadi bubur,” tulis Hieronymus dalam Teknologi Tepat

Guna Pembuatan Tempe dan Tahu Kedelai.

Pada abad ke-19, orang-orang Jawa dilanda mengalami krisis gizi yang luar biasa akibat penerapan sistem cultuurstelsel (Tanam Paksa). Hasil bumi dikuras untuk kepentingan kolonial sampai mereka sendiri kesulitan untuk makan. Saat itulah tahu muncul sebagai pangan alternatif.

“Menurut sejarawan Onghokham,” ungkap Rizal, “tahu bersama tempe, menjadi penyelamat orang-orang Jawa dari masa krisis asupan gizi.”

Sampai sekarang, tahu menjadi makanan penting bagi orang Indonesia. Cara penyajiannnya di tiap wilayah pun bervariasi. Meski begitu, ia tetap menjadi pangan yang populer dan dapat dinikmati kapan saja.

Jika membicarakan makanan, tidak lengkap rasanya jika tidak membicarakan efeknya bagi kesehatan, termasuk kandungan nutrisinya.  Apalagi, tahu adalah makanan yang kaya gizi sehingga mampu menyelamatkan masyarakat yang menjadi korban sistem Tanam Paksa dari krisis pangan yang terjadi ketika itu.

Dikutip dari manfaatnyasehat.com, tahu memiliki kandungan gizi sebagai berikut :

  1. Sumber gizi makro karbohidrat, protein, lemak.
  2. Sumber gizi mikro vitamin B kompleks yang terdiri dari riboflavin dan thiamin, vitamin B12, vitamin E, mineral, phosphor, kalsium, serta kalium.

Kandungan gizi di atas membuat tahu memiliki khasiat sebagai berikut :

  1. Tahu dapat menurunkan kadar kolesterol
  2. Menurunkan kadar gula darah
  3. Merawat tulang dan mencegah osteoporosis
  4. Menambah energi
  5. Menurunkan berat badan
  6. Menurunkan resiko kanker dan anemia
  7. Menjaga kesehatan jantung
  8. Rendah kalori, namun tinggi protein
  9. Tahu adalah sumber yang baik dari berbagai mineral,  seperti asam folat, kalsium, besi, magnesium, fosfor,  seng, dan kalium.
  10. Vitamin pada tahu seperti  vitamin D, A, B6, C, thiamin, riboflavin, dan niasin.
  11. Sumber protein untuk penderita asam urat

Penelitian yang dilakukan untuk mempelajari pengaruh tahu menunjukkan bahwa,  tahu adalah sumber protein yang baik,  terutama untuk penderita rematik gout

atau memiliki kadar  asam urat yang tinggi. Namun, orang-orang dengan rematik gout tidak boleh mgnkonsumsi tahu secara berlebihan, maupun hasil dari olahan kedelai lainnya.

Manfaat-manfaat tersebut terkandung dalam tahu yang segar dan dalam kondisi baik. Berikut ini saya sajikan beberapa tips untuk memilih tahu yang baik dan tidak mengandung boraks atau formalin.

  1. Pastikan tahu tidak keras
  2. Pastikan tahu yang anda beli memiliki sedikit lendir
  3. Pastikan aroma tahu masih segar
  4. Pastikan tahu akan basi jika dibiarkan sampai sore dan tidak dimasukkan ke lemari es.

Demikianlah tulisan singkat saya mengenai makanan yang sudah sangat akrab dan digemari oleh hampir seluruh lapisan masyarakat ini. Semoga artikel singkat ini dapat memberikan manfaat untuk pembaca semua. Mari tingkatkan konsumsi makanan sehat agar kesehatan kita selalu terjaga.

 

Media Komunikasi Tradisional pada Novel Gajah Mada#1

Kali ini kita bertemu lagi dalam sebuah tulisan mengenai novel Gajah Mada, khususnya edisi pertama dari lima seri lengkapnya. Sesuai dengan judulnya, novel ini mengambil setting pada tahun 1319 dimana Majapahit berhasil diguncang oleh suatu pemberontakan yang didalangi oleh Ra Kuti, salah seorang dari pejabat kesayangan raja alias Dharmaputra Winehsuka. Pemberontakan besar itu mengakibatkan sang rajayang bernama Jayanegara harus meninggalkan keraton untuk menyelamatkan diri dengan dikawal oleh Gajah Mada dan pasukannya yang terkenal dengan nama Bhayangkara. Usaha pelarian itu dibayangi oleh pengkhianatan dari salah seorang prajurit Bhayangkara yang diam-diam merupakan kaki tangan para pemberontak. Namun repotnya, Gajah Mada tidak mengetahui siapa pengkhianat itu. Nyawa Baginda Jayanegara pun selalu terancam karenanya, sehingga Gajah Mada harus melipatgandakan kecerdikannya untuk melawan musuh dalam selimut tersebut.
Selain kisahnya yang menarik, salah satu hal yang menjadi daya tarik novel ini adalah penyajian gambaran kehidupan masyarakat klasik yang tentu saja sangat berbeda dengan kehidupan kita pada zaman sekarang ini. Perbedaan yang sangat terlihat adalah pada teknologi yang digunakan, khususnya dalam berkomunikasi. Berikut ini saya sajikan beberapa media komunikasi tradisional yang saya temukan dalam kisah yang ditulis oleh Langit Kresna Hariadi ini.
Media komunikasi tradisional yang pertama adalah kentongan. Dalam masyarakat Indonesia, kentongan sudah digunakan sejak ratusan tahun yang lalu. Alat yang biasanya digunakan oleh masyarakat pedesaan ini digunakan untuk mengirimkan isyarat nonverbal berupa suara. Suara yang terdengar dari sebuah kentongan akan disambung oleh kentongan lainnya secara sambung menyambung. Adapun jenis pesan yang dikirimkan melalui suara kentongan cukup beragam. Pesan yang hendak disampaikan dikemas dengan nada-nada tertentu. Pada kisah ini, kentongan yang dipukul dengan nada daramulik adalah pesan bahwa keadaan aman dan waktu telah menginjak tengah malam. Selain itu suara kentongan juga digunakan untuk memberikan isyarat adanya kebakaran. Fungsi kentongan yang satu ini dapat ditemukan pada bagian dimana prajurit Bhayangkara yang bernama Kartika Sinumping membakar bangsal kesatriaan Jalapati dan Jala Rananggana untuk mengacaukan barisan pemberontak yang telah menduduki istana. Seketika kekacauan terjadi. Para prajurit pemberontak yang sebelumnya tengah berpesta pora di dalam bangsal berhamburan keluar. Beberapa di antaranya kemudian memukul kentongan yang terdapat di Purawaktra.
Media komunikasi tradisional yang kedua adalah genderang. Genderang memiliki kemiripan dengan kentongan, yaitu sebagai alat penghasil bunyi. Bedanya, media komunikasi yang satu ini lebih banyak digunakan untuk keperluan perang. Dalam novel Gajah Mada seri pertama ini, genderang digunakan untuk memberikan aba-aba bagi para prajurit. Aba-aba yang berupa suara ini kemudian diinterpretasikan sesuai dengan makna yang telah disepakati.
Selain itu, di dalam novel Gajah Mada suara genderang juga melambangkan luapan semangat. Pada salah satu bagian cerita, pasukan Jalayudha yang dipimpin Tumenggung Panji Watang mengangkat senjata, bersorak-sorai, dan menabuh genderang untuk mengungkapkan antusiasme mereka akan perintah pemimpin mereka untuk menggempur istana.
Suara dari alat penghasil bunyi tersebut juga dimanfaatkan untuk membakar semangat para prajurit. Namun, di pihak lain, suara tambur dan genderang yang sama juga memberitahu Gajah Mada selaku pihak protagonis akan kedatangan pihak Jalayudha yang merupakan pengkhianat sehingga ia segera meningkatkan kesiagaan.
Penggunaan lainnya dari genderang adalah untuk menarik perhatian. Bagian cerita yang mengungkapkan hal ini adalah ketika Mahapatih Arya Tadah datang ke tengah-tengah pertempuran dengan terlebih dahulu menabuh genderang untuk menarik perhatian. Pihak-pihak yang bertempur pun memberi kesempatan kepada sang mahapatih untuk berdiri di tengah mereka.
Media komunikasi tradisional berikutnya adalah bende. Seperti tambur dan genderang, dalam kisah di seri pertama novel Gajah Mada ini bende atau gong kecil ini juga digunakan untuk mengirimkan pesan melalui suara yang dihasilkan. Pada pagi hari ketika pemberontakan berlangsung, sebuah bende pusaka Majapahit yang bernama Kyai Samudera digunakan untuk membakar semangat para prajurit yang akan bertempur. Sebaliknya, suara bende ini juga dapat digunakan untuk mengintimidasi lawan.
Bende pusaka ini diceritakan memiliki suara yang sangat keras dan bergetar sehingga dapat terdengar dari jauh. Diceritakan bahwa para penduduk ibukota Majapahit yang semula tidak tahu bahwa istana diserbu pemberontak menjadi gelisah ketika mendengar suara bende pusaka ini. Peristiwa ini termasuk bagian cerita yang menarik bagi saya. Semula bende ini dicuri oleh pihak pemberontak dan direncanakan akan digunakan untuk memberikan aba-aba kepada pasukan yang berdiri di pihak antagonis. Namun, tanpa diduga seorang mata-mata dari Bhayangkara berhasil menyusup ke pasukan lawan dan merebut bende itu kmbali tanpa diketahui. Perbuatan itu berhasil mengejutkan pihak antagonis karena di luar dugaan pasukan yang melindungi istana-lah yang kemudian membunyikan bende tersebut. Dengan demikian, fungsi bende di dalam kisah ini memiliki kesamaan dengan tambur dan genderang, meskipun karakteristiknya berbeda. Ketiganya sama-sama digunakan untuk mengirimkan isyarat berupa suara. Selain itu, efek yang diharapkan dari suara tersebut adalah meningkatnya semangat juang para prajurit. Sedangkan pesan yang dibawanya adalah instruksi untuk bersiap.
Media komunikasi tradisional berikutnya adalah sangkakala. Sangkakala atau terompet juga memiliki fungsi yang sama dengan genderang, tambur, dan bende, yaitu untuk mengirimkan isyarat suara. Bedanya hanyalah pada proses untuk memproduksi suara itu. Terompet dibunyikan dengan cara ditiup, sedangkan genderang dan bende harus dipukul agar dapat menghasilkan bunyi.
Kemudian ada pula merpati. Peran merpati di sini adalah sebagai pembawa pesan verbal yang ditulis pada secarik daun lontar. Dalam kisah Gajah Mada penggunaan merpati ini ditemukan pada bagian dimana seorang prajurit Bhayangkara yang merupakan pengkhianat melepaskan burung merpati untuk memberitahukan tempat persembunyian Jayanegara kepada pihak pemberontak. Dengan demikian pesan yang dikirimkan berbentuk verbal, berupa kata-kata yang dituliskan di dalam surat dan kemudian dibawa oleh merpati.
Berikutnya adalah panah berapi. Panah berapi ini digunakan sebagai isyarat nonverbal berupa nyala api. Di dalam novel ini amat banyak ditemukan penggunaan anak panah berapi yang berpeluit. Benda yang berupa anak panah bambu yang ujungnya dibakar ini akan jelas terlihat di malam hari. Selain sinar dari apinya, batang anak panah yang berpeluit juga akan menimbulkan suara saat ditembakkan. Dalam novel ini, benda ini biasanya digunakan oleh pasukan Bhayangkara, pasukan khusus Majapahit yang bertugas melindungi raja dan keluarganya. Anak panah ini biasanya ditembakkan ke udara sebagai pesan bahwa seluruh anggota Bhayangkara harus berkumpul.
Media ini juga digunakan untuk membawa pesan bahwa yang menembakkannya adalah seorang Bhayangkara. Bahkan, di beberapa bagian cerita anak panah seperti ini juga digunakan untuk menakut-nakuti atau memperingatkan lawan. Pada saat kotaraja Majapahit diduduki oleh para pemberontak yang dipimpin oleh Kuti (lihat buku pertama), meluncurnya anak panah berapi semacam ini membawa pesan agar masyarakat dimohon tenang karena pasukan Bhayangkara sedang berada di tengah-tengah mereka.
Dengan demikian komunikannya adalah masyarakat yang menghuni kotaraja Majapahit. Efek yang diharapkan adalah masyarakat yang sedang menghadapi ketakutan karena pemberontakan menjadi tenang dan tidak khawatir lagi akan keselamatan mereka. Namun, media panah berapi yang meluncur ke udara ini dapat juga dimaknai berbeda oleh komunikan yang berbeda, yaitu apabila luncuran anak panah ini terlihat oleh para pemberontak maka efeknya akan berbeda pula. Pemberontak yang sebelumnya berasal dari kalangan prajurit Majapahit sendiri merasa gentar karena sudah mengetahui karakteristik pasukan Bhayangkara yang dapat menyerang dengan tiba-tiba.
Sehubungan dengan perannya sebagai pembawa perintah untuk berkumpul, biasanya para Bhayangkara lainnya juga akan membalas menembakkan panah api ke udara untuk menunjukkan keberadaan mereka. Maka, dapat dikatakan bahwa panah api ini adalah sebuah media komunikasi tradisional. Bahkan, selain sebagai media benda ini juga dapat dimaknai sebagai sebuah pesan sebagaimana pendapat Marshall Mc Luhan bahwa media adalah pesan.
Itulah beberapa dari media komunikasi tradisional yang digunakan untuk mengirimkan pesan-pesan nonverbal dalam kisah Gajah Mada karya Langit Kresna Haryadi. Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan manfaat bagi teman-teman semua, minimal untuk berbagi pengetahuan serta sedikit mengingatkan untuk menengok kembali perjalanan sejarah bangsa kita yang telah berlangsung berabad-abad dimana Majapahit dengan Gajah Mada dan Sumpah Palapanya merupakan tonggak penting yang tidak semestinya dilupakan .

Isra Mi’raj, Perjalanan Suci Menembus Langit

Tidak lama lagi kita selaku umat Muslim akan memperingati suatu peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu peristiwa Isra dan Mi’raj. Peristiwa ini sangat penting bagi umat Muslim di seluruh dunia, karena pada peristiwa yang merupakan perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W  dalam waktu satu malam ini turunlah perintah shalat lima waktu.

Seringkali masyarakat menggabungkan Isra Mi’raj menjadi satu peristiwa yang sama. Padahal sebenarnya Isra dan Mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad S.A.W  diberangkatkan oleh Allah  SWT dari Masjidil Haram  yang terletak di Makkah Arab Saudi hingga Masjidil Aqsa di Palestina.

Dalam Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W  dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha  yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu, sebagaimana firman Allah pada Q. S. Al Isra:1 yang berbunyi :

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya

agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Q.S. al-Isra:1).

Di berbagai penjuru dunia, umat Muslim memperingati Isra Mi’raj dengan berbagai cara. Lailat al Mi’raj  (Arab: لیلة المعراج, Lailätu ‘l-Mi‘rāğ), juga dikenal sebagai Shab-e-Mi’raj  (bahasa Persia:

شب معراج, Šab-e Mi’râj) di Iran, Pakistan, India  dan Bangladesh, dan Miraç Kandili dalam bahasa Turki, adalah sebuah perayaan yang dilangsungkan saat Isra dan Mi’raj. Beberapa Muslim merayakannya dengan melakukan salat tahajud  di malam hari. Selain itu di beberapa negara dengan penduduk mayoritas Muslim, peristiwa perjalanan suci ini diperingati dengan menghias kota dengan lampu dan lilin. Sementara itu umat Islam berkumpul di masjid dan salat berjamaah serta mendengarkan khutbah mengenai Isra dan Mi’raj.

Mengenai tanggal pasti dari peristiwa Isra Mi’raj ini, terdapat berbagai pendapat. Tanggal pasti mengenai kejadian ini tidak jelas, tetapi tetap dirayakan karena terjadi sebelum hijrah  dan setelah kunjungan nabi ke Taif. Beberapa orang menganggapnya telah terjadi hanya setahun sebelum hijrah, , yaitu  pada 27 Rajab; tetapi tanggal ini tidak selalu diterima. Tanggal ini akan sama dengan 26 Februari 621 di kalender Julian,  dan 8 Maret 620 jika terjadi setahun sebelumnya. Dalam tradisi Syi’ah  di Iran, 27 Rajab merupakan hari pemanggilan pertama Nabi Muhammad, disebut Mab’as.

Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab, dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi’raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi’raj.

Meskipun demikian, di Indonesia sendiri peristiwa Isra Mi’raj ini biasa diperingati pada tanggal 27 Rajab setiap tahunnya. Peristiwa besar tersebut diperingati dengan cara yang berbeda-beda di setiap daerah. Sedangkan di Indonesia yang merupakan negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, peringatan Isra Mi’raj juga diselenggarakan dengan berbagai tradisi unik. Berikut ini Chrysanova’s blog akan menyajikan beberapa di antaranya. Kita mulai dari Cirebon. Cirebon yang menjadi salah satu tempat penyebaran agama Islam sarat akan tradisi. Masyarakat Cirebon punya tradisi Isra Miraj yang jatuh pada tanggal 27 Rajab dalam Kalender Hijriah, yakni bernama Rajaban.

Biasanya masyarakat Cirebon berbondong-bondong pergi berziarah ke Plangon, tempat dua makam penyebar ajaran agama Islam yakni Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan.

Selain itu tradisi Rajaban juga biasa digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon. Keraton Kasepuhan biasanya menggelar pengajian untuk umum dan melakukan tradisi membagikan nasi bogana kepada wargi keraton, kaum masjid, abdi dalem dan masyarakat mager sari.

Nasi bogana itu terdiri dari kentang, telor ayam, tempe, tahu, parutan kelapa dan bumbu kuning yang dijadikan satu.

Adapun di Bangka,  tradisi unik juga biasa dilakukan untuk memperingati Isra Mi’raj. Di Kelurahan Kampung Bukit, Kelurahan Toboali, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Bangka Belitung punya tradisi untuk menyambut hari

Isra Miraj. Nama tradisi itu adalah Tradisi Nanggung.

Nganggung adalah tradisi membawa makanan dari rumah masing-masing menggunakan dulang atau rantang. Makanan yang dibawa biasanya berupa kue, buah-buahan

atau nasi lengkap dengan lauk pauknya.

Tradisi nganggung pada Isra Miraj biasanya tak hanya dilaksanakan warga Kampung Bukit, tetapi juga warga desa lain di Bangka Selatan.

Sedangkan di Yogyakarta, ada pula tradisi Jawa yang telah ratusan tahun dilakukan di Kraton Yogyakarta. Nama tradisi tersebut adalah Rejeban Peksi Buraq.

. Para Abdi Dalem biasanya melantunkan tembang Macapat berisi doa-doa di Bangsal Pancaniti, Keben Keraton Yogyakarta. Macapat ini menjadi prosesi awal sebelum Abdi Dalem dan Warga melakukan Topo Bisu Lampah Mubeng Benteng,

Dua Burung Buraq sebagai simbol kendaraan Nabi Muhammad yang terbuat dari kulit jeruk bali dibawa oleh abdi dalem Kaji Selusin dari Bangsal Kencana Kraton

Yogyakarta menuju Serambi Masjid Gede Kauman

Burung Buraq itu bertengger di atas susunan gunungan buah yang terdiri dari beberapa macam buah seperti manggis, rambutan dan juga tebu. Nantinya, gunungan buah itu akan dibagikan kepada jamaah masjid usai pengajian.

Sedangkan di  Kampung SiwarakSemarang, masyarakat memperingati Isra Mi’raj dengan menggelar  tradisi Nyadran Desa. Ratusan warga di Kelurahan Kandri Kecamatan Gunungpati yaitu di RW 2 Kampung Siwarak mengikuti tradisi Nyadran Desa atau Haul Umum untuk memperingati Isra Mi’raj. Dalam Nyadaran itu juga diadakan kirab budaya seperti mengarak replika hewan badak Siwarak, gunungan berisi buah dan sayuran dari hasil bumi pertanian penduduk, alat musik lesung, permainan tradisional thek thek dan pawai drumband serta kelompok tani.

Sepanjang rute pawai, berbagai atraksi peserta tersebut menjadi tontonan warga yang sudah menunggu di depan rumahnya masing-masing. Musik drumband dan alunan lagu dari grup kempling dengan memukul rebana seakan memecah keheningan pagi di desa tersebut. Setelah kirab, peserta menampilkan keterampilan seperti pencak silat dan tarian di tengah lingkaran. Kemudian peserta membawakan cerita awal mula daerah itu diberinama kampung Siwarak.

Selanjutnya kita menyeberang ke Pulau Sumatera yang dahulu terkenal dengan nama Swarnabhumi, tepatnya ke Propinsi Sumatera Utara. Di Karo masyarakat merayakan Isra’ Mi’raj dengan cara mempraktikkan sebuah tradisi yang disebut Kerja Tahun. Ini adalah semacam pesta panen yang dilakukan orang desa sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah Tuhan. Waktu penyelenggaraan acara ini berbeda-beda tergantung dari tiap desa. Sebagian desa merayakannya menjelang Isra Miraj.

Demikianlah tulisan singkat mengenai peringatan Isra Mi’raj. Semoga artikel ini bermanfaat untuk pembaca semua. Salam Chrysanova’s Blog, sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya.

 

Referensi :

 

  • com

 

  • Tebuireng Online

 

  • Wikipedia Bahasa Indonesia

Melati Dalam Berbagai Tradisi di Nusantara

Sejak zaman dahulu, melati putih telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Bunga melati dari spesies Jasminum sambac memiliki peran penting dalam adat istiadat berbagai suku di Nusantara, mulai dari upacara pernikahan hingga upacara-upacara lainnya. Bahkan, kehadirannya dianggap sakral dan sangat penting. Berikut ini saya sajikan peranan bunga melati putih dalam kebudayaan Nusantara yang dikumpulkan dari berbagai sumber.
Disarikan dari mahligai.com, bunga yang berwarna putih dan beraroma wangi ini antara lain digunakan dalam upacara pernikahan. Pengantin wanita adat jawa atau Sunda misalnya, memakai rangkaian melati sebagai hiasan kepala. Pengantin Makassar dan Bugis juga menghiasi rambutnya dengan kuncup melati yang disematkan ke rambut menyerupai butiran mutiara. Sementara pengantin pria Jawa menghiasi keris mereka dengan rangkaian melati yang disebut roncean usus-usus. Hiasan ini diduga tidak terlepas dari kisah pertempuran Arya Penangsang sang adipati Jipang melawan Sutawijaya yang selanjutnya terkenal dalam sejarah sebagai Panembahan Senopati, sultan pertama kerajaan Mataram Islam. Kala itu Sutawijaya berhasil menusuk perut sang adipati dari Jipang dengan tombak. Usus Arya Penangsang pun keluar, namun adipati yang sakti itu tidak tewas karenanya. Ia malah menyangkutkan usus tersebut pada warangka kerisnya. Namun ketika pertempuran semakin sengit ia lupa bahwa ususnya disangkutkan pada warangka, sehingga usus itu pun putus ketika keris dicabut. Peristiwa inilah yang mengakhiri riwayat Arya Penangsang.
Sedangkan dalam tradisi pernikahan adat Sunda, kedua mempelai biasanya memakai untaian bunga melati sebagai kalung. Pengantin wanita juga memakai untaian melati sebagai hiasan sanggul yang menjuntai ke bahu. Dikutip dari Hipwee wedding, untaian melati ini melambangkan kesucian dan kemurnian sang pengantin wanita.
Pemakaian melati dalam acara pernikahan juga tak bisa terlepas dari makna dibalik bunga ini sendiri. Melati dianggap bunga yang melambangkan kesucian, keanggunan, dan ketulusan. Selain itu, kendati bunga melati berukuran kecil, namun memiliki aroma yang wangi. Karakteristik inilah yang membuat bunga melati melambangkan keindahan dalam kesederhanaan dan kerendahan hati.
Selain untuk pelengkap busana pengantin, di dalam budaya Jawa juga melati digunakan sebagai pelengkap ritual. Bersama mawar, kenanga, dan cempaka atau kantil, bunga melati biasanya dikumpulkan dan disebut kembang setaman yang merupakan simbolisasi dari berbagai filosofi yang penting dalam kehidupan.
Secara istilah, yang dimaksud kembang setaman adalah sejumlah bunga yang terkumpul dalam bungkusan daun pisang. Isinya yang paling umum adalah bunga mawar,
melati, cempaka putih (alias bunga kantil), kenanga dan irisan daun pandan wangi.
Kembang setaman banyak ditempatkan atau ditaburkan di sekitar objek-objek tertentu. Misalnya makam, perempatan jalan, arca dan bahkan air laut. Maksud penempatannya ini
ada dua. Pertama adalah sebagai doa agar keharuman senantiasa menyelimuti sosok yang telah meninggal dunia tersebut. Sedangkan kedua adalah sebagai pertanda
bahwa tempat yang bersangkutan merupakan tempat keramat.
Uborampe ini sangat fleksibel, cakupannya luas dan dimanfaatkan dalam berbagai acara ritus dan kegiatan spiritual. Kembang setaman versi Jawa terdiri dari beberapa jenis bunga, yakni mawar, melati, kanthil, dan kenanga. Dikutip dari daniswara2012.wordpress.com, maknabunga melati dalam kebudayaan Jawa adalah rasa melad saka njero ati, yang berarti ucapan dan pembicaraan kita hendaknya selalu dilandasi oleh ketulusan dari hati nurani yang paling dalam. Lahir dan batin haruslah selalu sama, kompak dan tidak munafik. Menjalani segala sesuatu tidak asal bunyi, tidak asal-asalan. Kembang melati, atau mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan
segala kebaikan hendaklah melibatkan hati (sembah kalbu), jangan hanya dilakukan secara gerak ragawi saja.
Tradisi lainnya yang melibatkan melati adalah dalam ritual mandi kembang. Mandi kembang biasa dilakukan dalam upacara ruwatan, dimana anak yang diruwat dimandikan dengan air yang dicampur dengan kembang setaman. Dalam dunia mistik pun perilaku mandi kembang sudah tidak asing lagi. Tujuannya beragam, mulai dari pengobatan, pesugihan atau mencari kekayaan, atau bahkan syarat untuk mendalami suatu ilmu. Mandi kembang yang identik dengan hal sakral dan berbau mistis ternyata juga sangat bermanfaat bagi kesehatan. Eleman air dan bunga sebagai media utamanya, mampu memberikan kesegaran dan kasih sayang pada jiwa serta raga.
Penelitian terakhir di Eropa mengungkapkan, mandi ternyata tidak hanya baik untuk membersihkan tubuh dari kotoran dan menjauhkan stres, tetapi juga memiliki peran penting dalam meningkatkan sistem kekebalan. Hasil studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menunjukkan, penderita diabetes yang menghabiskan hanya 30 menit berendam dalam bak air hangat dapat menurunkan tingkat gula darah sekitar 13 persen.
Bagaimana dengan mandi kembang? Pada hakikatnya air dan kembang merupakan dua elemen yang mampu dijadikan sarana rileksasi. Dalam falsafah pengobatan tradisional Cina, air adalah elemen yang sangat kuat dalam praktik penyembuhan.
Air juga diposisikan sebagai pusat ritual spiritual. Tak heran, banyak budaya di dunia menganggap air sebagai elemen penting bagi pembersihan secara fisik maupun spiritual. Hingga kini, berjuta-juta orang masih mendatangi sungai atau mata air yang dianggap suci demi mendapat khasiat penyembuhannya. Ketertarikan akan air adalah hal yang sangat naluriah karena sebagian besar komposisi otak, darah, dan otot kita terdiri atas air.
“Manusia telah menggunakan air untuk memulihkan tubuh secara fisik, mental, dan emosional sejak dahulu,” kata Barbara Close, pendiri Naturopathica Holistic
Health, Australia, dan penulis buku Pure Skin: Organic Beauty Basics. Dijelaskan, air sebagai agen penyembuhan telah lama digunakan untuk keperluan pengobatan gangguan fisik maupun psikis.
Kata Debra, jauh sebelum sebuah mata air dianggap suci dan menarik minat peziarah, muncul kebiasaan “mengambil air” di ruang-ruang pemandian oleh masyarakat
Eropa. Penduduk Asia seperti di Indonesia atau Mesoamerika memiliki ritual mandi. Menambahkan bunga dalam ritual mandi. Harapannya, agar aktivitas mandi dapat disertai dengan energi spiritual yang kuat lantaran berhubungan dengan tanaman-tanaman
asli di sekitarnya.
Tom Suhalim, praktisi terapi energi bunga, menjelaskan bahwa bunga mampu memberikan energi positif bagi tubuh melalui aroma dan bentuknya. Wajar jika dalam prosesi mandi orang sering menambahkan bunga sebagai elemen untuk saling melengkapi sekaligus memaksimalkan energinya.
Selain memberikan kesegaran, mandi bunga atau kembang dipercaya mampu menurunkan stres dan menstabilkan medan energi. Pemanfaatan energi bunga dalam ritual
mandi juga memberikan perubahan yang lebih positif, dari sisi mental, emosional, maupun spiritual, cakra lebih aktif, aura pun lebih terang dan kuat.
Untuk meraih manfaat bunga dalam ritual mandi, biasanya dipilih jenis bunga yang memiliki aroma wangi dan menyegarkan. Dalam khasanah budaya Jawa dikenal
sebutan kembang setaman, seperti mawar, melati, kenanga dan lain sebagainya.
Selain tradisi-tradisi di atas, saya menemukan pula berbagai tradisi unik yang melibatkan bunga melati. Tradisi-tradisi ini tersebar di berbagai pelosok tanah Jawa, bahkan tidak menutup kemungkinan juga sampai di luar Jawa. Tradisi-tradisi tersebut di antara lain penyajian aneka bunga di dalam sebuah tampah bersama-sama dengan perlengkapan lainnya. Tampah ini kemudian diletakkan di atas atap rumah untuk menyambut para leluhur yang datang menjelang bulan Ramadhan. Ritual ini akan kembali dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri untuk melepas kepergian para arwah tersebut. Isi sesajinya pun tidak hanya bunga. Adakalanya ditambahkan pula kemenyan, lampu minyak tanah, dan lain sebagainya.
Selain itu ada pula tradisi menaruh sesaji yang terdiri dari bunga-bunga dan lampu minyak tanah di berbagai tempat, di antaranya di bawah tempat tidur. Hal ini biasanya dilakukan pada hari kelahiran seseorang atau biasa disebut weton. Selain itu ada pula tradisi menaruh sesaji di depan rumah dengan tujuan memagari rumah tersebut dari gangguan makhluk halus. Penyajian seperti ini biasanya dilakukan pada saat melakukan hajatan. Tidak hanya itu, di sudut-sudut rumah tempat penyelenggaraan acara ditempatkan pula sesaji seperti itu. Sesaji yang digunakan tidak hanya bunga, bisa beras kuning atau kacang hijau.,
Pada hari-hari penting pada penanggalan Jawa seperti upacara menyambut 1 Muharram pun bunga melati tidak ketinggalan. Biasanya bunga ini ditempatkan dalam sesaji yang disebut kembar mayang, yaitu tujuh kuntum bunga. Di samping itu disajikan juga bubur Suro, sirih, dan keranjang berisi aneka buah yang bertujuan untuk menghormati para leluhur.
Demikianlah sekelumit kisah mengenai penggunaan bunga melati di dalam kebudayaan Nusantara. Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat untuk pembaca. Mari kita lestarikan kebudayaan dan alam kita, karena keduanya adalah kekayaan bangsa yang tidak ternilai dan sarat makna.

Masjid Istiqlal, Masjid Nasional Kebanggaan Indonesia

Siapa yang tidak kenal Masjid Istiqlal? Masjid terbesar di Asia Tenggara ini terdapat di pusat pemerintahan Republik Indonesia, tepatnya di sebelah timur Taman Medan Merdeka, tidak jauh dari Monumen Nasional dan Gereja Katedral. Letak yang strategis ini membuat semua orang tidak asing lagi dengan bangunan suci umat Muslim ini, terlebih karena masjid yang menyandang predikat masjid nasional ini selalu menjadi pusat peringatan berbagai kegiatan umat Muslim Indonesia. Bahkan presiden Republik Indonesia pun selalu menghadiri acara-acara besar tersebut. Untuk memperingati selesainya pembangunan masjid Istiqlal yang jatuh pada tanggal 22 Februari 1978  mari kita telusuri kembali sejarah masjid Istiqlal.

Disarikan dari Wikipedia, Masjid Istiqlal merupakan masjid negara Indonesia, yaitu masjid yang mewakili umat muslim Indonesia. Karena menyandang status terhormat ini maka masjid ini harus dapat menjadi kebanggaan bangsa Indonesia sekaligus menggambarkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Masjid ini dibangun sebagai ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. Karena itulah masjid ini dinamakan “Istiqlal” yang dalam bahasa Arab  berarti “Merdeka”.

Masjid ini memiliki sejarah yang cukup panjang, dimulai sejak masa-masa awal Republik Indonesia. Setelah perang kemerdekaan Indonesia, mulai berkembang gagasan besar untuk mendirikan masjid nasional. Ide pembangunan masjid tercetus setelah empat tahun proklamasi kemerdekaan. Gagasan pembangunan masjid kenegaraan ini sejalan dengan tradisi bangsa Indonesia yang sejak zaman kerajaan purba pernah membangun bangunan monumental keagamaan yang melambangkan kejayaan negara. Misalnya pada zaman kerajaan Hindu-Buddha bangsa Indonesia telah berjaya membangun candi Borobudur  Dan Prambanan.

Karena itulah pada masa kemerdekaan Indonesia terbit gagasan membangun masjid agung yang megah dan pantas menyandang predikat sebagai masjid negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Pada tahun 1950, KH. Wahid Hasyim  yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia  dan H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam  mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam di Deca Park, sebuah gedung pertemuan di jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka. Pertemuan  untuk membahas rencana pembangunan masjid tersebut dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman.

Masjid tersebut disepakati akan diberi nama Istiqlal. Secara harfiah, kata Istiqlal berasal dari bahasa Arab  yang berarti kebebasan, lepas atau kemerdekaan, yang secara istilah menggambarkan rasa syukur kepada Allah atas limpahan rahmat berupa kemerdekaan bangsa.

Pada pertemuan di gedung Deca Park tersebut, secara mufakat disepakati bahwa H. Anwar Tjokroaminoto akan bertindak sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Ia juga ditunjuk secara mufakat sebagai ketua panitia pembangunan Masjid Istiqlal, meskipun datang terlambat karena baru kembali ke tanah air setelah bertugas sebagai delegasi Indonesia ke Jepang dalam rangka  membicarakan masalah rampasan perang saat itu.

Pada tahun 1953, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal melaporkan rencana pembangunan masjid itu kepada kepala negara. Presiden Soekarno menyambut baik rencana tersebut, bahkan akan membantu sepenuhnya pembangunan Masjid Istiqlal. Kemudian Yayasan Masjid Istiqlal disahkan di hadapan notaris Elisa Pondag pada tanggal 7 Desember  1954.

Presiden Soekarno mulai aktif dalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal sejak ditunjuk sebagai Ketua Dewan Juri dalam Sayembara maket Masjid Istiqlal yang diumumkan melalui surat kabar dan media lainnya pada tanggal 22 Februari 1955. Melalui pengumuman tersebut, para arsitek,  baik perorangan maupun kelembagaan diundang untuk turut serta dalam sayembara itu.

Sempat terjadi perbedaan pendapat dalam penentuan lokasi Masjid Istiqlal. Ir. H. Mohammad Hatta  (Wakil Presiden RI) berpendapat bahwa lokasi yang paling tepat untuk pembangunan Masjid Istiqlal tersebut adalah di Jl. Moh. Husni Thamrin yang kini menjadi lokasi Hotel Indonesia. Usul tersebut diajukan dengan pertimbangan lokasi tersebut berada di lingkungan masyarakat Muslin  dan belum ada bangunan di atasnya ketika itu.

Sementara itu, Ir. Soekarno (Presiden RI saat itu) mengusulkan pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan di Taman Wilhelmina, yang di dalamnya terdapat reruntuhan benteng Belanda  dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah dan pusat-pusat perdagangan serta dekat dengan Istana Merdeka. Hal ini sesuai dengan simbol kekuasaan keraton  di Pulau Jawa  dan daerah-daerah di Indonesia bahwa masjid harus selalu berdekatan dengan keraton atau dekat dengan alun-alun. Dalam usulan ini Taman Medan Merdeka dianggap sebagai alun-alun Ibu Kota Jakarta. Selain itu Soekarno juga menghendaki masjid negara Indonesia ini berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta  untuk melambangkan semangat persaudaraan, persatuan dan toleransi beragama sesuai Pancasila.

Pendapat H. Moh. Hatta tersebut akan lebih hemat karena tidak akan mengeluarkan biaya untuk penggusuran bangunan-bangunan yang ada di atas dan di sekitar lokasi. Namun, setelah dilakukan musyawarah, akhirnya ditetapkan bahwa Masjid Istiqlal akan dibangun di Taman Wilhelmina. Untuk memberi tempat bagi masjid ini, bekas benteng Belanda yaitu benteng Prins Frederick yang dibangun pada tahun 1837 dibongkar.

Dewan Juri sayembara rancang bangun Masjid Istiqlal, terdiri dari para Arsitek dan Ulama terkenal. Susunan Dewan Juri adalah Presiden Soekarno  sebagai ketua, dengan anggotanya Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Ir. Djoeanda Kartawidjaja, Ir. Suwardi, Ir. R. Ukar Bratakusumah, Rd. Soeratmoko, H. Abdul Malik Karim Amrullah  (HAMKA), H. Aboebakar Atjeh, dan Oemar Husein Amin.

Sayembara berlangsung mulai tanggal 22 Februari 1955 sampai dengan 30 Mei 1955. Sambutan masyarakat sangat menggembirakan, tergambar dari banyaknya peminat hingga mencapai 30 peserta. Dari jumlah tersebut, terdapat 27 peserta yang menyerahkan sketsa dan maketnya, dan hanya 22 peserta yang memenuhi persyaratan lomba.

Setelah dewan juri menilai dan mengevaluasi, akhirnya ditetapkanlah 5 (lima) peserta sebagai nominator. Lima peserta tersebut adalah:

  1. Pemenang Pertama: Fredrerich Silaban dengan disain bersandi Ketuhanan
  2. Pemenang Kedua: R. Utoyo dengan disain bersandi Istighfar
  3. Pemenang Ketiga: Hans Gronewegen dengan disain bersandi Salam
  4. Pemenang Keempat: 5 orang mahasiswa ITB dengan disain bersandi Ilham
  5. Pemenang Kelima: adalah 3 orang mahasiswa ITB dengan disain bersandi Khatulistiwa dan NV. Associatie dengan sandi Lima Arab

Pada tanggal 5 Juli 1955, Dewan Juri menetapkan F. Silaban sebagai pemenang pertama. Penetapan tersebut dilakukan di Istana Merdeka, sekaligus menganugerahkan sebuah medali emas 75 gram dan uang Rp. 25.000. Pemenang kedua, ketiga, dan keempat diberikan hadiah. Dan seluruh peserta mendapat sertifikat penghargaan.

Masjid Istiqlal pun dibangun. Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, disaksikan oleh ribuan umat Islam. Namun sayangnya, selanjutnya pelaksanaan pembangunan masjid ini tidak berjalan lancar. Sejak direncanakan pada tahun 1950 sampai dengan 1965 proyek ini tidak mengalami banyak kemajuan. Proyek ini tersendat, karena situasi politik yang kurang kondusif. Pada masa itu, berlaku demokrasi parlementer, partai-partai politik  saling bertikai untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Kondisi ini memuncak pada tahun 1965 saat meletus peristiwa G30S/PKI, sehingga pembangunan masjid terhenti sama sekali. Setelah situasi politik mereda, pada tahun 1966  Menteri Agama KH. Muhammad Dahlan  mempelopori kembali pembangunan masjid ini. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal.

Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal selesai dibangun. Dimulai pada tanggal 24 Agustus  1961, dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto  pada tanggal 22 Februari  1978,  ditandai dengan prasasti  yang dipasang di area tangga  pintu As-Salam. Biaya pembangunan diperoleh terutama dari APBN  sebesar Rp. 7.000.000.000,- (tujuh miliar rupiah) dan US$. 12.000.000 (dua belas juta dollar AS).

Demikianlah sekelumit sejarah pembangunan Masjid Istiqlal, masjid kebanggaan bangsa Indonesia. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa kita seperti disimbolkan dengan keberadaan Masjid Istiqlal yang berdampingan dengan Gereja Katedral dan juga dirancang oleh seorang arsitek beragama Protestan. Semoga artikel singkat mengenai sejarah masjid terbesar di Indonesia ini bermanfaat bagi pembaca semua.